Media Kampung – Pondok Tremas di Pacitan menonjolkan AI pesantren sebagai contoh integrasi teknologi modern dalam pendidikan tradisional, dan baru-baru ini mendapat sorotan dari Wakil Presiden Republik Indonesia. Langkah ini menunjukkan kemampuan pesantren untuk mengadopsi inovasi tanpa mengorbankan nilai-nilai keagamaan.
Pesantren tersebut mulai menerapkan sistem pembelajaran berbasis kecerdasan buatan pada awal tahun 2024, meliputi modul bahasa Arab, matematika, dan ilmu fiqh yang dipersonalisasi melalui algoritma adaptif.
Platform AI yang dipilih memungkinkan guru menyesuaikan materi secara real‑time sesuai kemampuan masing‑masing santri, sehingga proses belajar menjadi lebih efisien dan menarik.
Wapres meninjau langsung fasilitas tersebut pada kunjungan kerja ke Pacitan tanggal 2 Mei 2024, dan menyatakan dukungan penuh pemerintah terhadap upaya digitalisasi pesantren.
Dalam sambutannya, Wapres menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara teknologi dan tradisi, serta mengajak lembaga pendidikan agama lainnya untuk mengevaluasi potensi AI.
Kunjungan itu juga dihadiri oleh pimpinan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang menilai program ini selaras dengan kebijakan nasional tentang pendidikan berbasis digital.
Data internal Pondok Tremas menunjukkan peningkatan rata‑rata nilai ujian akhir semester sebesar 12 poin setelah penerapan modul AI, meskipun angka spesifik tidak dipublikasikan secara luas.
Santri melaporkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, dengan kemampuan AI memberikan umpan balik instan pada latihan tulis dan lisan.
Guru-guru pesantren mengakui bahwa pelatihan intensif selama tiga bulan diperlukan untuk menguasai antarmuka sistem, namun mereka menilai investasi waktu tersebut sepadan dengan hasilnya.
Pondok Tremas juga mengintegrasikan perangkat keras seperti tablet dan server lokal, yang dipasang di ruang kelas utama, sehingga jaringan tetap stabil tanpa mengandalkan internet publik.
Keberhasilan proyek ini menarik perhatian pesantren lain di Jawa Timur, yang kini merencanakan kunjungan studi untuk mempelajari model implementasi AI.
Pemerintah daerah Pacitan memberikan dukungan logistik, termasuk penyediaan listrik cadangan dan pelatihan teknis bagi staf IT pesantren.
Meskipun demikian, pengelola tetap menegaskan bahwa nilai moral dan spiritual tetap menjadi inti kurikulum, dengan AI berperan sebagai alat bantu, bukan pengganti.
Ke depan, Pondok Tremas berencana memperluas penggunaan AI ke bidang kajian hadis dan bahasa Indonesia, serta meluncurkan portal belajar daring yang dapat diakses oleh pesantren mitra.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan