Media Kampung – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Guru Besar ITS, Prof Ary Mazharuddin Shiddiqi, memperkenalkan konsep kecerdasan artifisial adaptif berbasis continual learning. Gagasan ini lahir dari kebutuhan mendesak akan sistem AI yang mampu terus belajar dari data baru tanpa melupakan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Dalam orasi ilmiahnya pada Rabu, 17 Juni 2026, Ary menekankan bahwa AI yang tidak mampu beradaptasi akan cepat menjadi usang. Ia menyoroti tantangan utama dalam pengembangan continual learning, yaitu catastrophic forgetting, di mana model AI memahami informasi baru tetapi kehilangan pengetahuan sebelumnya. Untuk mengatasi hal ini, Ary mengembangkan Adaptive Intelligence Framework for Distributed Systems. Kerangka kerja ini terdiri dari lima tahapan: observe, learn, remember, adapt, dan act.
Melalui kerangka tersebut, Ary merumuskan tiga arah kebaruan keilmuan: adaptive cyber defense, adaptive AI infrastructure, dan adaptive critical infrastructure. Implementasi nyata dari konsep ini adalah FusionNet-FR, sebuah model untuk peramalan deret waktu jangka panjang, serta SPARC, sistem deteksi risiko kontaminan pada jaringan distribusi air. Kedua inovasi ini didukung oleh platform DiLLeMa dan CloudX-Lab yang menyediakan dynamic scheduling, load balancing, auto scaling, dan efisiensi sumber daya.
Menurut Ary, penerapan AI adaptif dapat memperkuat ketahanan siber nasional dan mempercepat transformasi digital. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga harus mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan lokal. Dari sisi etika, Ary mengingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan, bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya. Ia berkomitmen untuk terus mengembangkan continual learning demi memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan kemajuan bangsa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan