Media Kampung – Setelah penandatanganan perjanjian damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengakhiri hampir empat bulan konflik, maskapai-maskapai penerbangan di negara-negara Teluk mulai menunjukkan peningkatan signifikan dalam operasional mereka. Kesepakatan ini memberikan angin segar bagi sektor penerbangan di kawasan yang sebelumnya terdampak ketegangan militer dan pembatasan wilayah udara.

Data dari Flightradar24 mengindikasikan bahwa jumlah penerbangan maskapai utama di kawasan Teluk kini telah kembali mencapai sekitar 82 persen dari tingkat sebelum konflik pecah pada 28 Februari 2026. Beberapa maskapai bahkan berhasil melampaui volume penerbangan sebelum perang dimulai. Contohnya, Gulf Air dan Kuwait Airways dalam beberapa hari terakhir melaporkan peningkatan aktivitas penerbangan yang melebihi level pra-konflik.

Tiga maskapai terbesar di kawasan—Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways—juga menunjukkan pemulihan operasional yang signifikan. Etihad dan Qatar Airways yang sebelumnya hanya mampu menjalankan 40-50 persen kapasitas normal kini telah mendekati 90 persen, sementara Emirates yang mempertahankan operasional sepanjang konflik berhasil mencapai 86 persen dari kapasitas normalnya. CEO Emirates, Tim Clark, menekankan pentingnya membangun kepercayaan pelancong dengan memastikan aspek keselamatan dan keandalan layanan tetap terjaga.

Peningkatan aktivitas penerbangan ini sejalan dengan meredanya ketegangan di kawasan Teluk yang juga tercermin dari pencabutan imbauan perjalanan oleh Rusia ke negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan nota kesepahaman antara AS dan Iran yang bertujuan menstabilkan situasi kawasan.

Selain itu, jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz kembali aktif dengan lalu lintas kapal komersial yang melonjak tiga kali lipat sejak awal Maret. Pembukaan kembali wilayah udara dan perairan ini diharapkan dapat mendorong pemulihan ekonomi serta memperkuat konektivitas regional yang sempat terhambat akibat konflik.

Kondisi yang semakin kondusif ini memberikan harapan bagi maskapai-maskapai dan sektor transportasi lainnya di kawasan Teluk untuk kembali ke level operasional normal dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.