Media Kampung – Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Afrika Selatan, Muhibbudin Majid, menjelaskan bagaimana perayaan Iduladha di Johannesburg memadukan tradisi Indonesia dengan kebiasaan lokal.
Pernyataan tersebut disampaikan pada wawancara dengan PRO3 RRI, Rabu 27 Mei 2026, saat mahasiswa Indonesia sedang menyiapkan kurban tahunan.
“Yang non‑Islam biasanya mereka menunggu jatah sisa daging. Jadi mereka juga berharap mendapatkan dagingnya,” ujarnya.
Majid menambahkan bahwa ia secara aktif membantu proses pemotongan dan persiapan daging bersama rekan‑rekan pelajar Indonesia.
Ia bertugas memotong daging, membersihkan, dan menata potongan agar dapat didistribusikan secara adil kepada semua pihak.
Hewan kurban yang dipilih di Afrika Selatan tidak berbeda jauh dengan yang biasa dipilih di Indonesia.
“Di sini sama seperti di Indonesia, jadi sapi, kambing, cuma itu,” jelasnya, menegaskan bahwa sapi dan kambing tetap menjadi pilihan utama.
Setelah pemotongan, daging dibawa ke Kedutaan Besar Indonesia untuk diolah menjadi hidangan khas.
Di kedutaan, tim kuliner mengikuti cita rasa Nusantara, menyajikan sate dan gulai sebagai menu utama bagi mahasiswa.
“Untuk di kedutaan, kita ngikutin ala‑ala Indonesia, ada sate atau gulai seperti itu,” kata Majid.
Namun, tidak semua institusi mengadopsi rasa Indonesia; beberapa komunitas lebih mengutamakan bumbu India.
“Curry itu sudah seperti menu wajib di Iduladha, jadi kita pasti kebagian,” ia menambahkan tentang popularitas kari.
Suasana perayaan menjadi lebih hidup ketika mahasiswa Indonesia, Malaysia, dan Thailand berkumpul untuk takbiran bersama.
Acara takbiran ini bertujuan menciptakan nuansa kampung halaman di tengah tanah asing.
Majid menilai kehadiran mahasiswa Asia lain memperkuat rasa kebersamaan dan menambah kegembiraan.
Di luar perayaan, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh umat Islam memaknai kurban sebagai sarana keikhlasan.
“Mari meneguhkan spirit kurban sebagai wujud keikhlasan, kepedulian, dan tanggung jawab bersama,” pesan Menag dalam sambutan Iduladha 2026.
Ia menekankan bahwa ibadah kurban tidak sekadar ritual, melainkan juga mengandung nilai kemanusiaan dan kepedulian lingkungan.
Pesan tersebut selaras dengan praktik di Afrika Selatan, di mana daging kurban dibagikan kepada masyarakat luas, termasuk non‑Muslim.
Distribusi daging menjadi contoh konkret solidaritas sosial yang melintasi batas agama.
Majid menuturkan bahwa proses pembagian daging berlangsung secara transparan, melibatkan panitia mahasiswa dan perwakilan komunitas lokal.
Hal ini menciptakan rasa saling menghormati dan memperkuat hubungan antar‑kelompok.
Dengan tradisi yang tetap mempertahankan unsur Indonesia, mahasiswa merasakan kedekatan budaya meski berada di benua lain.
Pengalaman ini diharapkan menjadi referensi bagi PPI di negara lain dalam merayakan Iduladha.
Ke depan, Majid berencana memperluas kerja sama dengan organisasi keagamaan setempat untuk meningkatkan dampak sosial kurban.
Ia menutup wawancara dengan harapan perayaan Iduladha di Afrika Selatan terus menjadi jembatan persaudaraan lintas budaya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan