Media Kampung – Krisis energi yang melanda dunia mendorong Jerman untuk mempertimbangkan kembali penggunaan batu bara sebagai sumber energi, meski sebelumnya berkomitmen untuk menghentikan pemanfaatannya pada 2038. Kenaikan harga energi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama perubahan sikap ini.
Pemerintah Jerman baru-baru ini mengesahkan undang-undang yang memungkinkan penggunaan minyak dan gas untuk sistem pemanas rumah, menandai perubahan kebijakan yang kontroversial di tengah upaya transisi energi hijau. Kanselir Friedrich Merz menyatakan bahwa Jerman mungkin harus mempertahankan pembangkit listrik tenaga batu bara lebih lama dari rencana awal demi menjaga kestabilan pasokan energi nasional.
Merz menegaskan, “Kita tidak bisa mempertaruhkan sistem pasokan energi hanya karena tanggal penghentian batu bara yang telah ditetapkan sebelumnya ternyata tidak realistis.” Pernyataan tersebut muncul setelah lonjakan harga energi yang dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak awal Maret 2026.
Namun, langkah ini mendapat kritik dari para pakar lingkungan. Martin Kaiser dari Greenpeace menilai alasan harga energi yang tinggi tidak dapat dijadikan dasar untuk meragukan rencana penghentian batu bara. Ia memperingatkan bahwa mempertanyakan konsensus nasional tanpa alasan kuat dapat mengancam keamanan energi dan hak generasi muda akan lingkungan yang bersih.
Sementara itu, beberapa analis energi mendukung pernyataan Merz. Jakob Schlandt dari Hamburg Institut menyebut ketergantungan Jerman pada impor energi fosil sebagai kelemahan strategis yang harus segera diatasi, meskipun ia tidak mendukung penggunaan batu bara secara langsung.
Krisis energi global ini juga berimbas pada kondisi ekonomi dan sosial di berbagai negara. Penutupan Selat Hormuz akibat konflik geopolitik menyebabkan lonjakan harga energi dan inflasi di banyak negara, termasuk di Asia. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperingatkan dampak jangka panjang terhadap lapangan kerja dan kondisi kerja di seluruh dunia.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Jerman berusaha menjaga kestabilan energi sambil tetap berupaya memenuhi target pengurangan emisi. Perdebatan mengenai batu bara menjadi cerminan kompleksitas transisi energi di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan