Media KampungAmerika Serikat melancarkan serangan terhadap dua kapal kargo sipil yang berlayar dari Khasab, Oman, menuju pelabuhan di Iran pada Selasa, 5 Mei 2026, menewaskan lima orang yang berada di atas kapal tersebut.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, pasukan AS menembakkan senjata ke dua kapal kecil yang tengah mengangkut barang logistik warga sipil. Serangan terjadi di perairan internasional antara pantai Oman dan Iran, tepatnya di selat yang berdekatan dengan Selat Hormuz. Kedua kapal, masing-masing berukuran kurang dari 1.000 ton, dilaporkan mengalami kerusakan parah pada bagian dek setelah tembakan.

“Kami menyaksikan dua ledakan besar di kapal kargo, kemudian api menyebar dan menewaskan lima awak yang sedang mengawal muatan,” kata seorang saksi mata yang mengaku berada di dekat lokasi, yang identitasnya dirahasiakan demi keamanan.

Pemerintah Iran secara tegas menolak klaim militer AS yang menyatakan tujuan serangan adalah enam kapal cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam pernyataan resmi yang disampaikan oleh Lembaga Siaran Iran (IRIB), pejabat militer senior menegaskan tidak ada kapal perang atau aset IRGC yang berada di zona tersebut pada saat insiden.

“Tindakan Amerika Serikat merupakan agresi yang melanggar hukum internasional, karena menargetkan kapal sipil tanpa provokasi,” ujar juru bicara IRIB, menambah bahwa serangan tersebut mengancam kebebasan navigasi di perairan internasional.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengkonfirmasi bahwa serangan itu merupakan respons terhadap dugaan penembakan terhadap kapal perang AS dan kapal komersial oleh Iran pada hari sebelumnya. Namun, pernyataan itu tidak didukung oleh bukti konkret yang dapat diverifikasi secara independen.

Pengamat militer di wilayah tersebut mencatat bahwa operasi “Project Freedom” yang diumumkan Presiden AS pada 3 Mei 2026 melibatkan pengerahan kapal perusak berpedoman, lebih dari seratus pesawat, serta sistem nirawak multi‑domain. Tujuan resmi proyek itu adalah membantu kapal-kapal yang terhambat di Selat Hormuz, namun kritikus berpendapat bahwa operasi tersebut dapat meningkatkan ketegangan di kawasan.

Data dari Tasnim menunjukkan kelima korban adalah awak kapal yang sedang mengawasi muatan, termasuk dua pria berusia 32 dan 35 tahun, serta tiga wanita yang bertugas sebagai teknisi. Keluarga korban telah diberitahu, dan pemerintah Iran menjanjikan penyelidikan menyeluruh untuk mengidentifikasi pelaku dan mengajukan tuntutan hukum di forum internasional.

Sejumlah negara sahabat menanggapi insiden ini dengan keprihatinan. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) mengingatkan semua pihak untuk menghormati Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk ketegangan di wilayah yang sudah rawan.

Di sisi lain, Pentagon menolak tuduhan bahwa serangan menargetkan kapal sipil, menyatakan bahwa “identifikasi awal menunjukkan kapal tersebut berpotensi berhubungan dengan aktivitas militer Iran.” Pernyataan tersebut belum dapat diverifikasi secara publik karena masih berada dalam proses penyelidikan.

Insiden ini menambah daftar peristiwa militer di perairan strategis antara Oman dan Iran sejak awal 2026, termasuk serangkaian pertempuran udara dan serangan rudal yang terjadi pada bulan April. Pengamat keamanan menilai bahwa eskalasi semacam ini dapat mengganggu jalur perdagangan minyak global yang melewati Selat Hormuz.

Hingga saat ini, tidak ada laporan resmi tentang kerusakan pada kapal lain di wilayah tersebut, dan operasi militer AS masih berlanjut dengan tujuan “menjamin keamanan navigasi” sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan resmi CENTCOM. Pemerintah Iran menuntut klarifikasi lebih lanjut dan menyiapkan langkah diplomatik di forum PBB untuk menuntut pertanggungjawaban Amerika Serikat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.