Media Kampung – Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyoroti tajam arus keluar modal asing yang melambung tinggi dalam peringatan Hari Buruh Internasional di Monas.
Pidato Prabowo pada 1 Mei 2026 menekankan bahwa tekanan global masih memicu aliran modal keluar, menambah beban pasar keuangan domestik.
Setelah rapat bersama Presiden di Istana pada 5 Mei, Airlangga menegaskan bahwa capital outflow kini menjadi fokus utama, menambahkan bahwa faktor utama meliputi pasar modal, surat berharga negara, dan intervensi SRBI.
Ia menyebutkan, “Bapak Presiden melihat terkait dengan capital outflow dan capital outflow tadi didalami bahwa disebabkan oleh satu pasar modal, kedua SBN, dan ketiga dinetralisasi oleh SRBI,” menegaskan urgensi penanganan.
Capital outflow mengacu pada dana yang ditarik oleh investor asing dari pasar saham maupun obligasi negara, mengurangi likuiditas dan menekan nilai tukar.
Data RTI Business per 5 Mei 2026 mencatat net foreign sell sebesar Rp 518,39 miliar, dengan pasar reguler menyumbang Rp 317,94 miliar dan pasar negosiasi serta tunai Rp 200,44 miliar.
Transaksi total pasar mencapai Rp 17,2 triliun, di mana investor domestik mendominasi 70,75 persen (Rp 12,4 triliun beli, Rp 11,9 triliun jual), sementara investor asing menempati 29,25 persen dengan nilai beli Rp 4,8 triliun dan jual Rp 5,3 triliun.
Volume perdagangan saham tercatat 43,9 miliar lembar, dengan investor lokal menguasai lebih dari 80 persen aktivitas, sedangkan investor asing berkontribusi sekitar 19,43 persen.
Frekuensi transaksi harian menguatkan dominasi domestik, mencapai 86,16 persen dari total 2,46 juta transaksi per hari.
Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia telah menyusun langkah koordinasi untuk menahan tekanan outflow, termasuk penyediaan likuiditas dan pengawasan aliran modal.
Airlangga menambahkan, “Kesepakatan kerja sama antara BI dan Menteri Keuangan sehingga ke depan ini bisa dijaga terkait dengan capital outflow,” menegaskan komitmen bersama.
Latar belakang tekanan ini bersumber dari ketidakpastian geopolitik global, kebijakan moneter internasional, dan pergeseran sentimen risiko yang mendorong investor mencari alternatif yang lebih aman.
Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia mencatat defisit akun keuangan yang melemah, memperparah kekhawatiran tentang stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar.
Pemerintah berencana memperketat regulasi aliran modal, memperkuat pengawasan SBN, serta meningkatkan insentif bagi investor domestik untuk menambah likuiditas.
Pengawasan berkelanjutan dan koordinasi lintas lembaga diharapkan dapat meredam arus keluar yang berkelanjutan, menjaga kestabilan pasar keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan