Media Kampung – Bandara Imam Khomeini di Tehran kembali beroperasi setelah 56 hari tutup, menandai pemulihan layanan penerbangan internasional di Iran. Pembukaan kembali penerbangan berlangsung pada Sabtu pagi, 25 April 2026, sesuai laporan media penyiaran Iran (IRIB).

Penerbangan pertama yang lepas landas dari bandara tersebut mengarah ke Istanbul, Muscat, dan Madinah, menandai kembali terhubungnya jaringan rute utama. Rute‑rute ini dipilih sebagai prioritas karena tingginya permintaan penumpang dan peran strategisnya dalam hubungan ekonomi regional.

CEO Imam Khomeini Airport City, Ramin Kashef Azar, mengonfirmasi kepada Kantor Berita Buruh Iran (ILNA) bahwa layanan internasional akan kembali pada hari Sabtu. Ia menambahkan bahwa persiapan teknis dan keamanan telah selesai, memungkinkan operasional normal kembali.

Penutupan bandara dimulai setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, yang memicu balasan udara dari Iran. Konflik tersebut mengakibatkan pembatasan ruang udara di sebagian besar Timur Tengah, menahan ribuan penerbangan komersial.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sejak 8 April 2026 berhasil menstabilkan situasi, memungkinkan otoritas penerbangan mengatur kembali jadwal. Negosiasi antara pejabat Tehran dan Washington terus berlangsung di Islamabad, meskipun prospek pertemuan langsung masih belum pasti.

Otoritas bandara mengumumkan rencana penambahan penerbangan ke Baku, Najaf, Baghdad, dan Doha dalam beberapa hari ke depan. Langkah ini diharapkan meningkatkan konektivitas regional dan membantu mengembalikan kepercayaan pelaku industri penerbangan.

Maskapai nasional Iran Air juga melanjutkan penerbangan domestik, termasuk rute Tehran‑Mashhad yang sempat terhenti selama 56 hari. Pemulihan layanan domestik ini memberikan alternatif bagi penumpang yang sebelumnya terpaksa menunda perjalanan.

Pembukaan kembali bandara diproyeksikan menyumbang pemulihan ekonomi lokal, mengingat bandara tersebut melayani lebih dari satu juta penumpang per tahun. Kehadiran kembali penerbangan internasional diharapkan mendongkrak sektor pariwisata, perdagangan, serta investasi asing di Iran.

Beberapa negara, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, telah mengumumkan pembukaan kembali zona udara mereka secara bertahap sejak akhir Februari. Kerjasama multinasional dalam mengatur ruang udara menjadi faktor kunci untuk menghindari gangguan lebih lanjut.

Bandara Imam Khomeini meningkatkan prosedur keamanan, termasuk pemeriksaan tambahan pada bagasi dan pemantauan radar yang lebih intensif. Langkah ini dirancang untuk memastikan keselamatan penumpang serta mencegah potensi ancaman di tengah ketegangan geopolitik.

Menurut data awal, jumlah penumpang yang menggunakan penerbangan pertama mencapai 2.300 orang, mencerminkan permintaan tinggi setelah penutupan lama. Penumpang melaporkan kepuasan atas layanan yang kembali beroperasi tanpa penundaan signifikan.

Pemerintah Iran menargetkan agar seluruh rute internasional yang terdampak dapat beroperasi kembali penuh pada kuartal kedua 2026. Keberlanjutan gencatan senjata dan penyelesaian diplomatik diyakini menjadi prasyarat utama bagi stabilitas sektor transportasi udara.

Saat ini, Bandara Imam Khomeini berfungsi normal dengan jadwal penerbangan yang terus ditambah setiap minggu. Pemulihan ini menandai langkah penting dalam proses rekonstruksi pasca konflik dan harapan akan normalisasi hubungan regional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.