Media Kampung – Lebanon menegaskan tidak akan menandatangani perjanjian apa pun dengan Israel kecuali terdapat klausul penarikan pasukan Israel secara total, menandai posisi tegas dalam negosiasi damai yang sedang berlangsung.
Perdana Menteri Nawaf Salam menyatakan bahwa keberadaan zona penyangga Israel menghalangi pengembalian pengungsi Lebanon dan pembangunan kembali desa‑desa yang hancur, sehingga penarikan penuh menjadi syarat utama.
Presiden Joseph Aoun menambahkan bahwa kesiapan Lebanon untuk bernegosiasi tidak berarti penyerahan diri, melainkan upaya mencari solusi permanen atas konflik bersenjata yang telah melanda wilayah selatan.
Pada 15 April, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan rencana penghancuran kota Bint Jbeil, yang dianggap sebagai benteng Hizbullah, menambah ketegangan di perbatasan.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melaporkan bahwa pertemuan tingkat duta besar antara Lebanon dan Israel akan diadakan di Washington, sebagai langkah lanjutan dari putaran pertama yang sudah dilakukan.
Presiden Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu, dimulai setelah kesepakatan awal 10‑hari yang berlaku sejak 17 April, dengan harapan membuka ruang bagi pembicaraan lebih luas.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan Amerika Serikat akan membantu Lebanon melindungi diri dari ancaman Hizbullah, sekaligus menegaskan hak Israel untuk membela diri bila diserang.
Ketegangan tetap tinggi karena pasukan Israel secara rutin melanggar gencatan senjata melalui serangan udara, artileri, dan penggunaan drone di wilayah selatan Lebanon.
Hizbullah menolak pembicaraan damai tersebut dan menuduh Israel terus memperluas operasi militer, sementara Lebanon menuntut penarikan lengkap pasukan Israel sebagai prasyarat utama.
Pengamat regional menilai bahwa tanpa penarikan pasukan Israel, perjanjian damai tidak akan berkelanjutan, mengingat sejarah konflik yang berulang sejak 2006.
Situasi di perbatasan tetap tidak stabil, dengan penempatan tank dan kendaraan militer Israel yang terus meningkat sejak Maret 2026, memicu kecemasan warga sipil di kedua sisi.
Negosiasi selanjutnya dijadwalkan berlangsung di Washington pada akhir April, dengan harapan Amerika Serikat dapat memediasi solusi yang melibatkan penarikan penuh dan penghentian operasi militer.
Jika kesepakatan tercapai, Lebanon berencana mengaktifkan kembali proses rekonstruksi wilayah yang hancur, serta memfasilitasi kembali pengungsi yang selama ini terhalang oleh kehadiran militer asing.
Sementara itu, komunitas internasional menunggu respons resmi dari PBB mengenai implementasi penarikan pasukan Israel dan pemantauan gencatan senjata secara independen.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Leave a Reply