Media Kampung – Iranian gunboats menembak sebuah tanker komersial berlayar di Selat Hormuz pada Sabtu pagi, memperburuk ketegangan di jalur pelayaran penting dunia.
Insiden terjadi sekitar pukul 09.30 waktu setempat, saat tanker berlayar dari Teluk Persia menuju Samudra Hindia.
Rekaman audio selama 33 detik yang diunggah oleh akun pelacakan maritim menunjukkan suara kru yang berteriak meminta izin kepada IRGC sebelum tembakan terdengar.
Kapten tanker, yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa peluncuran peluru terjadi dari dua perahu cepat Revolusi Iran.
UK Maritime Trade Operations (UKMTO) mengonfirmasi bahwa tembakan tidak menimbulkan kerusakan signifikan pada kapal atau mengancam keselamatan kru.
Namun, kru melaporkan kerusakan ringan pada bagian luar dek, dan sebagian peralatan navigasi mengalami gangguan sementara.
Pihak berwenang Iran menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan respons terhadap blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa blokade akan tetap diberlakukan sampai ada kesepakatan dengan Tehran.
Menurut pernyataan Deputi Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, Amerika Serikat “mengambil risiko besar” dengan menantang kesepakatan gencatan senjata.
Dia menambahkan bahwa Iran tidak akan menyerahkan stok uranium terkaya yang diperkirakan mencapai 970 pon.
Pemerintah India mengirimkan kedutaannya ke Tehran untuk menegur insiden ini dan menuntut penjelasan resmi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menyatakan keprihatinan mendalam atas keselamatan kapal dagang India di wilayah tersebut.
India menekankan pentingnya jalur pelayaran bebas untuk memastikan pasokan energi dan komoditas.
Pakistani Foreign Minister Ishaq Dar menyatakan harapan bahwa perundingan antara Amerika Serikat dan Iran dapat menghasilkan gencatan senjata baru sebelum batas waktu 22 April.
Pasukan militer Pakistan mengirim delegasi ke Tehran untuk memfasilitasi dialog lanjutan.
Data dari firma pelacakan energi Kpler menunjukkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap terbatas pada koridor yang disetujui oleh otoritas Iran.
Sejumlah kapal komersial dipaksa kembali ke pelabuhan asalnya setelah menerima perintah untuk tidak melanjutkan perjalanan.
Pusat Komando Amerika Serikat melaporkan bahwa 23 kapal telah dibalikkan sejak blokade dimulai pada Senin.
Menurut laporan AP, perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah menewaskan lebih dari 3.000 orang di Iran hingga kini.
Kematian tersebut mencakup lebih dari 2.200 warga sipil di Lebanon serta puluhan personel militer di wilayah Teluk.
Kondisi geopolitik di kawasan semakin tidak stabil, terutama setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz pada hari sebelumnya.
Pernyataan resmi Komando Operasi Laut Iran menegaskan bahwa kontrol atas Selat Hormuz kembali berada di bawah “manajemen ketat” militer mereka.
Iran menegaskan bahwa setiap kapal yang mendekat akan dianggap berkolaborasi dengan musuh dan akan disasar.
Sementara itu, pasar minyak dunia mengalami fluktuasi harga karena kekhawatiran pasokan.
Harga Brent naik sekitar 2,5 persen dalam beberapa jam setelah laporan tembakan tersebar.
Para analis energi memperingatkan bahwa gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz dapat menambah tekanan pada inflasi global.
Organisasi energi internasional meminta semua pihak menahan diri dan menjaga jalur pelayaran tetap terbuka.
Sejumlah negara Eropa mengeluarkan pernyataan bersama menyerukan dialog diplomatik untuk meredakan situasi.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menekankan pentingnya penyelesaian damai melalui mediasi regional.
Di sisi lain, Iran menuduh Amerika Serikat melakukan “ancaman ekonomi” dengan blokade tersebut.
Pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS menolak tuduhan itu, menyatakan tindakan itu adalah respons terhadap kebijakan Iran.
Kondisi terkini menunjukkan bahwa tanker yang ditembak berhasil kembali ke pelabuhan terdekat untuk perbaikan dan pemeriksaan medis kru.
Para pejabat Iran belum mengumumkan langkah selanjutnya terkait kebijakan penutupan Selat Hormuz.
Perkembangan ini menambah tekanan pada proses negosiasi yang sedang berlangsung antara Washington dan Tehran.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan