Media Kampung – Banyak orang merasa hidup semakin berat, padahal yang sebenarnya terjadi adalah standar kepuasan yang terus meningkat tanpa henti. Fenomena ini dijelaskan oleh psikolog Barry Schwartz melalui konsep The Paradox of Choice, yang menyatakan bahwa semakin banyak pilihan, semakin sulit seseorang merasa puas.

Kebahagiaan setelah mencapai sesuatu—seperti diterima di kampus impian, mendapat pekerjaan pertama, atau membeli barang dari hasil sendiri—seringkali hanya bertahan beberapa minggu. Target baru segera muncul: kenaikan jabatan, kendaraan lebih baik, rumah lebih besar. Setiap pencapaian menjadi titik awal daftar keinginan berikutnya.

Baca juga:

Fenomena di Era Digital

Media sosial memperparah kondisi ini. Dalam hitungan menit, kita melihat teman yang baru lulus, rekan kerja yang promosi, atau orang lain yang liburan ke luar negeri. Tanpa sadar, kita menetapkan standar baru bagi diri sendiri. Pekerjaan tetap yang dulu dianggap pencapaian besar kini terasa kurang jika belum ada penghasilan tambahan atau bisnis sampingan. Liburan pun terasa kurang lengkap tanpa foto menarik untuk dibagikan.

Filsuf Alain de Botton dalam Status Anxiety menjelaskan bahwa kecemasan modern sering muncul bukan karena kekurangan, melainkan karena terus membandingkan posisi dengan orang lain. Standar keberhasilan dibentuk oleh lingkungan, bukan kebutuhan pribadi. Akibatnya, tidak ada garis akhir yang memberi rasa puas.

Baca juga:

Hedonic Adaptation: Kenapa Kita Cepat Bosan

Penelitian psikologi tentang hedonic adaptation menunjukkan bahwa manusia cepat terbiasa dengan hal-hal baik. Setelah suatu pencapaian, rasa bahagia perlahan kembali ke tingkat semula, mendorong kita mencari target baru. Inilah yang membuat seseorang merasa terus kekurangan meskipun hidupnya berkembang.

Memiliki ambisi tidak salah. Namun, ambisi kehilangan makna jika tidak diiringi kemampuan untuk berhenti sejenak dan menghargai sejauh mana kita telah melangkah. Pekerjaan yang hari ini terasa biasa pernah menjadi doa bertahun-tahun lalu. Penghasilan yang kini terasa kurang dulu adalah angka yang ingin dicapai. Kehidupan sederhana saat ini bisa jadi impian orang lain.

Baca juga:

Rasa Cukup Bukan Berhenti Bermimpi

Rasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Ini adalah kemampuan untuk tetap menghargai apa yang sudah dimiliki sambil melangkah menuju tujuan berikutnya. Hidup tidak selalu menjadi lebih ringan ketika memiliki lebih banyak. Terkadang, hidup terasa lebih ringan ketika kita berhenti menganggap bahwa “lebih” adalah satu-satunya cara untuk bahagia.