Media Kampung, Banyak pekerja yang merasa terjebak dalam rutinitas dan kehilangan gairah terhadap pekerjaan yang dulu dicintai. Fenomena quiet quitting pun semakin marak, terutama di kalangan generasi Z, sebagai bentuk protes terhadap pekerjaan yang tidak lagi memberikan kepuasan. Namun, sebelum mengambil keputusan besar, ada langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengevaluasi karier dan menemukan kembali semangat bekerja.

Kisah dr. Claire Kaye: Dari Dokter Menjadi Career Coach

dr. Claire Kaye, seorang dokter umum di NHS Inggris, mengalami dilema saat mendapatkan promosi yang selama ini diimpikan. Alih-alih merasa senang, ia justru merasa mual setiap kali memikirkan untuk menerimanya. Setelah hampir dua dekade bekerja, ia menyadari kepuasannya terhadap pekerjaan semakin berkurang. “Saya tidak lagi merasakan antusiasme saat memulai minggu kerja,” ujarnya.

Seorang rekan menyarankan Claire untuk menjalani career coaching. Ia pun memutuskan untuk mendengarkan diri sendiri dan meninggalkan dunia kedokteran untuk menjadi seorang coach. Kini, ia mendampingi perempuan-perempuan yang menghadapi situasi serupa, seperti setelah promosi, PHK, kembali bekerja usai cuti melahirkan, atau sekadar merasa tidak lagi menikmati pekerjaan.

Menurut Claire, sebagian besar orang bertahan di pekerjaan jauh lebih lama dari yang seharusnya. “Kita hanya terus berjalan mengikuti travelator kehidupan,” katanya. Kondisi ekonomi yang sulit juga membuat banyak orang memilih bertahan meski tidak puas.

Tujuh Langkah Menemukan Arah Karier

Claire membagikan tujuh langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa pun untuk mengevaluasi karier dan kembali jatuh cinta dengan pekerjaan:

  1. Berhenti sejenak. Duduklah selama 10 menit di tempat bebas gangguan, lalu tuliskan semua hal yang terasa tidak beres. Tujuan ini untuk memindahkan pikiran yang berputar ke dalam tulisan agar lebih jelas.
  2. Evaluasi yang memberi dan menguras energi. Buat dua kolom: “Apa yang memberi saya energi?” dan “Apa yang menguras energi saya?” Spesifiklah mengenai momen, tugas, dan interaksi. Lingkari yang paling penting, di situlah perubahan akan berdampak besar.
  3. Ingat, tidak setiap persimpangan berarti harus pergi. Gambarkan kurva lonceng: sisi kiri adalah awal babak baru yang segar, puncak adalah fase nyaman, sisi kanan saat pekerjaan mulai memberi lebih sedikit. Tandai posisi Anda saat ini.
  4. Lihat gambaran besar. Tulis paragraf pendek seolah-olah Anda berada lima tahun ke depan, mulai dengan “Saya sangat bersyukur karena saya…” dan “Saya berharap saya tidak…” Akhiri dengan bertanya, “Jika tidak ada yang berubah selama lima tahun, bagaimana perasaan saya?”
  5. Bedakan suara hati dengan ekspektasi orang lain. Bagi kertas menjadi dua: “Apa yang saya inginkan” dan “Apa yang saya pikir seharusnya saya inginkan.” Coret hal-hal di kolom kedua yang tidak sesuai dengan diri Anda.
  6. Tetapkan satu batasan. Identifikasi satu area yang lebih banyak menguras energi. Pilih satu tindakan: kurangi, delegasikan, atau hentikan. Satu batasan konsisten bisa membawa perubahan besar.
  7. Ambil satu langkah kecil. Tulis tiga langkah sederhana berisiko rendah menuju sesuatu yang baru. Pilih satu dan lakukan dalam 48 jam. Momentum akan membangun kepercayaan diri.

Claire menegaskan bahwa langkah-langkah ini tidak selalu berarti harus meninggalkan pekerjaan. Banyak kliennya yang justru kembali jatuh cinta dengan pekerjaan setelah menjalani proses ini. Namun, jika memang sudah waktunya berpisah, career coaching dapat membantu melangkah ke tahap berikutnya dengan tujuan yang lebih jelas.

Bagi yang merasa jenuh, liburan bisa menjadi momen tepat untuk melakukan refleksi diri. Siapa tahu, setelah liburan usai, Anda akan kembali ke meja kerja dengan perspektif yang berbeda.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.