Media Kampung – Beauty influencer Sabrina Chairunnisa, 33 tahun, membagikan pengalamannya menjalani prosedur pembekuan sel telur atau egg freezing di New York. Keputusan ini diambil sebagai bentuk investasi dan langkah bijak untuk mengamankan potensi memiliki keturunan di masa depan.

Kepada pengikutnya di Instagram, Sabrina mengungkapkan bahwa proses ini menuntut kedisiplinan tinggi, termasuk melakukan pemeriksaan rutin dan menyuntikkan hormon ke perutnya sendiri setiap hari. Ia berharap pengalamannya dapat mendorong pemberdayaan perempuan agar berani merencanakan masa depan reproduksi tanpa diliputi rasa tabu.

Egg freezing, yang secara medis dikenal sebagai kriopreservasi oosit, merupakan teknologi reproduksi berbantuan yang memungkinkan perempuan mengawetkan sel telur mereka. Prosedur ini menjadi pilihan bagi banyak perempuan yang ingin menunda kehamilan karena berbagai alasan, mulai dari fokus pada karier hingga kesiapan pribadi.

Proses egg freezing umumnya melibatkan beberapa tahapan krusial, dimulai dari stimulasi ovarium menggunakan suntikan hormon untuk merangsang produksi sel telur. Setelah itu, dilakukan pengambilan sel telur, diikuti dengan proses pembekuan cepat atau vitrifikasi, dan terakhir penyimpanan dalam nitrogen cair.

Meskipun menawarkan harapan, prosedur ini tetap memiliki potensi risiko yang perlu dipahami. Efek samping stimulasi ovarium bisa mencakup Sindrom Hiperstimulasi Ovarium (OHSS) ringan hingga berat, serta gejala mirip sindrom pramenstruasi (PMS) akibat fluktuasi hormonal.

Selain itu, prosedur pengambilan sel telur yang dilakukan di bawah anestesi juga memiliki risiko terkait anestesi itu sendiri, meskipun jarang terjadi pada pasien sehat. Ada pula kemungkinan cedera akibat jarum suntik atau komplikasi lain seperti pendarahan ringan atau infeksi pasca-prosedur.

Penting untuk dicatat bahwa egg freezing tidak menjamin kehamilan di masa depan. Tingkat keberhasilan sangat dipengaruhi oleh usia perempuan saat sel telur dibekukan, di mana usia di bawah 35 tahun umumnya memberikan peluang lebih baik, serta jumlah sel telur yang berhasil dibekukan.

Sabrina Chairunnisa, yang kini menetap di New York, melihat keputusannya ini sebagai sebuah investasi berharga. Ia ingin menunjukkan bahwa perencanaan masa depan reproduksi adalah hal yang wajar dan dapat dilakukan dengan teknologi medis modern.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.