Media Kampung – Pengembang Rocket League mengungkap bagaimana Unreal Engine menjadi tulang punggung teknis Paris Major, turnamen e‑sport terbesar yang digelar di Paris akhir pekan ini.

Acara tersebut mempertemukan enam belas tim terbaik dan menarik lebih dari 25 ribu penonton, serta menawarkan total hadiah senilai 350 ribu dolar.

Cliff Shoemaker, Direktur Pemrograman Kompetitif di Epic Games, menjelaskan bahwa hampir semua elemen siaran, termasuk lampu arena, panel cahaya lantai, dan kamera dalam‑game, dijalankan lewat Unreal Engine.

“Real‑time rendering membuka banyak peluang,” ujarnya, menambahkan bahwa teknologi ini memungkinkan penciptaan efek yang belum dapat diwujudkan pada mesin Unreal versi tiga.

Tim server Epic juga hadir di lokasi untuk menjamin keadilan kompetisi dengan meminimalkan lag, memberikan data ping setiap dua detik kepada produksi.

Mauricio Longoni, Senior Director of Game Publishing Rocket League, menekankan bahwa turnamen semacam ini menegaskan posisi Rocket League sebagai olahraga digital yang mandiri.

Ia menambahkan, “Batas atasnya tak terbatas karena permainan ini berbasis fisika dan kemampuan pemain,” menegaskan bahwa kesederhanaan tidak berarti dangkal.

Pengembang juga membahas rencana masa depan, termasuk upaya menyediakan alat latihan yang lebih terintegrasi untuk membantu pemain meningkatkan keterampilan mereka.

Shoemaker menyatakan bahwa kolaborasi dengan properti intelektual besar, seperti konten Star Wars di Fortnite, masih terbuka asalkan memberi nilai bagi komunitas Rocket League.

“Platform yang kami bangun memungkinkan konten buatan pengguna yang mudah diakses, meskipun saat ini Rocket League belum memiliki fitur serupa,” katanya.

Longoni menegaskan pentingnya kemitraan, mengingat game ini pernah menampilkan mobil‑mobil dari waralaba Fast & Furious serta merek otomotif nyata.

Ia menutup dengan harapan agar lebih banyak kolaborasi dapat memperkaya pilihan pemain dan menjaga relevansi kompetisi di mata penonton global.

Penggunaan Unreal Engine tidak hanya terbatas pada visual; ia juga mengontrol sinkronisasi lampu arena dengan aksi di lapangan, menciptakan atmosfer yang responsif.

Data real‑time yang disalurkan ke tim produksi setiap dua detik memastikan bahwa setiap tim berkompetisi dengan kondisi jaringan yang identik.

Keunggulan teknis ini memberi penyiaran kemampuan menampilkan sudut pandang dinamis, memperlihatkan aksi pemain dari perspektif yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Dengan dukungan infrastruktur ini, Paris Major menjadi contoh bagaimana teknologi game modern dapat meningkatkan standar produksi e‑sport internasional.

Ke depan, tim Rocket League berencana terus mengoptimalkan Unreal Engine untuk memperluas fitur kompetitif dan menambah variasi konten yang dapat dinikmati pemain serta penonton.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.