Media Kampung – Samsung tidak lagi mengukur keberhasilan kecerdasan buatan (AI) hanya dari jumlah pengguna yang mencoba fitur, melainkan dari seberapa sering mereka menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari. Perusahaan asal Korea Selatan itu menjadikan frekuensi pemakaian ulang (re-usage) sebagai indikator utama kesuksesan Galaxy AI.
Chon Hong, Head of Marketing Samsung Electronics Southeast Asia Oceania (SEAO), dalam sesi roundtable interview di ajang Galaxy Unpacked di London, Inggris, mengatakan bahwa Galaxy AI bukan sekadar fitur tambahan. “Galaxy AI bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi merupakan filosofi kami untuk menghadirkan pengalaman terbaik dan paling holistik bagi konsumen,” ujarnya kepada jurnalis kumparanTECH yang meliput acara tersebut.
Data Penggunaan Galaxy AI Meningkat Signifikan
Samsung mengklaim pendekatan ini mulai membuahkan hasil. Saat seri Galaxy Z diperkenalkan, sekitar 84 persen penggunanya memanfaatkan fitur Galaxy AI. Setelah satu tahun, tingkat adopsinya meningkat menjadi sekitar 96 persen. Menurut Chon Hong, data tersebut menunjukkan bahwa pengguna tidak hanya mencoba Galaxy AI sekali, tetapi terus kembali menggunakannya.
“Itulah sebabnya kami mengukur seberapa besar nilai yang kami berikan kepada konsumen dengan melihat seberapa sering mereka menggunakan Galaxy AI dan seberapa sering mereka kembali menggunakannya,” jelas Chon Hong.
Fokus pada Ekosistem yang Sticky
Selain meningkatkan jumlah pengguna, Samsung juga ingin membuat ekosistem Galaxy semakin relevan dan bermanfaat. Chon Hong menegaskan bahwa tujuan perusahaan bukan sekadar membuat pengguna bertahan di dalam ekosistem, melainkan memastikan seluruh layanan memberikan nilai tambah nyata. “Hanya jika ekosistem tersebut mampu memberikan nilai nyata, ekosistem Galaxy akan menjadi semakin sticky bagi pengguna,” katanya.
Yang dimaksud dengan stickiness adalah seberapa sering seseorang memanfaatkan layanan dan aplikasi dalam ekosistem Galaxy untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Samsung berupaya membantu pengguna memahami manfaat interaksi antarperangkat dan layanan yang ada.
Menuju Agentic AI yang Memahami Konteks
Chon Hong juga menyoroti perkembangan AI yang bergerak menuju era agentic AI, yaitu AI yang mampu bertindak secara mandiri. Agar lebih cerdas, AI tidak cukup hanya memahami perintah pengguna, tetapi juga harus memahami konteks di balik setiap interaksi. Misalnya, AI perlu mengetahui kapan pengguna mengajukan permintaan—apakah pagi hari, saat jam kerja, atau setelah pulang ke rumah. Dari informasi tersebut, AI dapat memberikan rekomendasi konten, layanan, maupun pengaturan perangkat yang lebih relevan.
“Semua itu baru bisa menjadi benar-benar cerdas ketika AI sudah memahami siapa Anda dan dalam konteks seperti apa Anda menggunakannya,” kata Chon Hong. Samsung menjadikan pemahaman terhadap konteks pengguna sebagai salah satu fokus utama pengembangan Galaxy AI ke depan. Dengan pendekatan ini, Samsung berharap Galaxy AI tidak hanya menjadi asisten digital, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman yang semakin personal.














