Media Kampung – Impor minyak nabati India kembali mencatat kenaikan signifikan pada Mei 2026, mencapai 1,365 juta ton atau naik 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 1,267 juta ton. Lonjakan ini terutama dipicu oleh meningkatnya pembelian minyak kedelai mentah yang semakin kompetitif dibandingkan minyak sawit, sehingga menekan permintaan minyak sawit olahan.
Data terbaru dari Solvent Extractors Association of India (SEA) menunjukkan bahwa impor minyak makan India pada Mei 2026 mencapai 1.338.936 ton, meningkat 6,7 persen dari 1.254.883 ton pada Mei 2025. Kenaikan paling tajam terjadi pada impor minyak kedelai mentah (crude soybean oil) yang melonjak menjadi 493.854 ton, dibandingkan 398.585 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
SEA menjelaskan bahwa peningkatan impor minyak kedelai dipicu oleh semakin sempitnya selisih harga antara minyak kedelai dan minyak sawit, sehingga minyak kedelai menjadi lebih kompetitif di pasar India. “Impor minyak makan pada Mei meningkat terutama karena naiknya impor minyak kedelai mentah seiring menyempitnya premi harga minyak kedelai terhadap minyak sawit,” ungkap SEA dalam laporannya yang dikutip Media Kampung dari indiatimes, Minggu (14/6/2026).
Sementara itu, impor minyak non-pangan (non-edible oil) juga mengalami lonjakan signifikan, yakni lebih dari dua kali lipat menjadi 26.202 ton, dibandingkan 12.040 ton pada Mei 2025. Secara kumulatif, selama tujuh bulan pertama tahun pemasaran minyak 2025/2026 (November 2025-Mei 2026), total impor minyak nabati India mencapai 9,365 juta ton, meningkat 12 persen dibandingkan 8,339 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Khusus untuk minyak makan, impor tercatat sebesar 9,217 juta ton, naik 13 persen dari 8,131 juta ton pada periode November 2024-Mei 2025. Di sisi lain, impor minyak non-pangan justru menurun menjadi 147.710 ton, dibandingkan 207.505 ton pada periode sebelumnya.
SEA juga menyoroti kebijakan pemerintah India yang mulai berlaku sejak 1 Juni 2026, yaitu menaikkan nilai tarif (tariff value) untuk crude palm oil (CPO) menjadi US$1.218 per ton dan RBD palm oil menjadi US$1.222 per ton. Pada saat yang sama, pemerintah sedikit menurunkan nilai tarif minyak kedelai mentah. Menurut SEA, kebijakan tersebut mempertahankan selisih bea masuk yang lebih tinggi antara minyak sawit mentah dan minyak sawit olahan, sehingga mendorong impor bahan baku untuk diproses di dalam negeri.
Akibatnya, tidak ada impor RBD Palmolein yang tercatat selama Mei 2026. Secara kumulatif, impor RBD Palmolein pada periode November 2025 hingga Mei 2026 turun tajam menjadi 47.270 ton, dibandingkan 826.800 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa minyak kedelai semakin kompetitif dan kebijakan tarif India turut mengubah pola impor minyak nabati di negara tersebut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan