Media Kampung – Perekonomian Indonesia pada kuartal I 2026 menunjukkan kinerja yang mengesankan dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,61% secara tahunan (yoy), melampaui ekspektasi berbagai lembaga. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak kuartal III 2022 dan menjadi dorongan bagi pemerintah untuk terus memacu belanja guna mempertahankan momentum positif hingga kuartal berikutnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026 mencapai Rp6.187,2 triliun (harga berlaku) dan Rp3.447,7 triliun (harga konstan). Meskipun mengalami kontraksi 0,77% dibandingkan kuartal sebelumnya (qtq), pertumbuhan tahunan 5,61% ini merupakan yang tertinggi sejak kuartal I 2013. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan bahwa pertumbuhan ini relatif paling tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar terhadap PDB kuartal I 2026 berasal dari konsumsi rumah tangga yang mencapai 54,36%, diikuti oleh investasi/PMTB sebesar 28,26%. Namun, pertumbuhan tertinggi justru dicatat oleh konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81% (yoy), sebuah rekor tertinggi sejak perhitungan PDB dengan tahun dasar 2010. Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar (19,07%), namun pertumbuhan paling signifikan terjadi pada sektor akomodasi dan makan minum sebesar 13,14% (yoy).

Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa pertumbuhan dua digit pada sektor akomodasi dan makan minum serta subsektor peternakan (11,84%) didorong oleh program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini turut meningkatkan penyediaan makanan dan minuman serta permintaan daging ayam dan telur untuk pasokan menu MBG.

Dampak program prioritas juga terasa pada sektor konstruksi, yang tumbuh 5,49% (yoy). Peningkatan ini didukung oleh realisasi anggaran belanja modal pemerintah, aktivitas swasta, penambahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Investasi/PMTB juga tumbuh 5,96% (yoy), salah satunya dipengaruhi oleh Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti MRT Jakarta yang mendorong investasi fisik lebih dari Rp25 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengapresiasi pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi berbagai lembaga internasional dan sejumlah ekonom. Ia membandingkan capaian ini dengan pertumbuhan negara-negara G20 lainnya, seperti China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Realisasi belanja APBN hingga akhir Maret 2026 tercatat Rp815 triliun, tumbuh 31,4% (yoy), yang didominasi oleh belanja pemerintah pusat.

Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah akan terus memacu belanja APBN pada kuartal II 2026 untuk menjaga momentum pertumbuhan. Upaya ini penting mengingat basis pertumbuhan kuartal II 2025 yang sempat terkontraksi 0,32% (yoy). Kebijakan fiskal akan dioptimalkan untuk menjaga target pertumbuhan 2026 sebesar 5,4% dan menjadi penahan gejolak ekonomi global.

Stimulus ekonomi lanjutan akan meliputi pencairan gaji ke-13 ASN senilai Rp55 triliun pada Juni 2026, insentif kendaraan listrik, serta bantuan pangan untuk 33,2 juta keluarga penerima manfaat. Program subsidi, kompensasi, revitalisasi sekolah, dan stimulus sektor perumahan melalui program 3 Juta Rumah juga akan terus digulirkan. Peningkatan energi baru terbarukan (EBT) diharapkan dapat menghemat pembelian solar hingga Rp48 triliun.

Pemerintah juga melakukan relaksasi kebijakan seperti penurunan bea masuk impor LPG dan bahan baku plastik menjadi 0% selama enam bulan, serta kemudahan perizinan impor dan standar produk. Namun, akselerasi belanja ini berdampak pada defisit fiskal hingga kuartal I 2026 yang mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB, disebabkan oleh pertumbuhan penerimaan negara yang belum setinggi belanja, terutama penerimaan pajak yang melandai.

Ekonom dari PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap resilien, didorong oleh permintaan domestik dan kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah. Namun, risiko kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan inflasi dan mempersempit ruang fiskal pemerintah, serta membatasi ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Samuel Sekuritas memprediksi pertumbuhan PDB akan berada di kisaran 5,1%-5,3% pada 2026, namun menekankan pentingnya stabilitas makro dan koordinasi kebijakan untuk menjaga kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar keuangan global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.