Media Kampung – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 bahwa Indonesia telah keluar dari kutukan ekonomi 5% dan menargetkan pertumbuhan 6% pada akhir tahun.
Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen secara tahunan, menurut data Badan Pusat Statistik yang dipublikasikan bersama acara tersebut.
Purbaya menegaskan, “Jadi clear sekali kita sudah bisa terlepas dari kutukan pertumbuhan 5 persen. Jadi ekonomi lagi bergerak ke arah yang lebih cepat lagi,” sambil menekankan optimisme terhadap akselerasi selanjutnya.
Ia menambahkan bahwa APBN 2026 menetapkan target pertumbuhan 5,4 persen, namun ia bertekad mendorong angka itu ke 6 persen, “Kalau di APBN kan 5,4. Saya akan dorong ke 6 persen. Kalau dapat 6 persen, saya akan minta hadiah ke presiden,” ujar Purbaya di Wisma Danantara pada 31 Januari.
Sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Indonesia pernah mencatat pertumbuhan di atas 6 persen sebanyak lima kali, dengan puncak 6,5 persen pada 2011.
Data BPS menunjukkan pertumbuhan 5,6 persen pada 2005, naik menjadi 6,3 persen pada 2007, turun menjadi 4,6 persen akibat krisis global 2009, lalu kembali melaju ke 6,1 persen pada 2010.
Ekonom Yusuf Manilet dari CORE menilai angka 5,61 persen kuat secara kuartalan, namun mengingat faktor sementara, “Kalau faktor-faktor itu dikeluarkan, pertumbuhan dasarnya kemungkinan hanya di kisaran 5 persen,” ia menjelaskan kepada kumparan.
Yusuf menekankan bahwa pertumbuhan 5 persen tidak cukup untuk meningkatkan pendapatan per kapita secara signifikan, “Target Indonesia Emas 2045 yang mensyaratkan lonjakan pendapatan per kapita menjadi sulit dicapai kalau tidak ada akselerasi ke kisaran 6,5–7 persen,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan tentang tantangan demografi, bahwa populasi yang menua akan menambah beban fiskal dan biasanya memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, memberikan pandangan berbeda dengan menilai pertumbuhan 5,61 persen sebagai pencapaian yang sangat baik di tengah kondisi global yang menantang.
Eddy menambahkan, “Rasanya kalau bisa tumbuh 5% terus itu sudah hal yang luar biasa,” sambil menekankan pentingnya memeriksa distribusi pertumbuhan antar sektor dan daerah.
Febrian Alphyanto Ruddyard, Wakil Menteri PPN/Bappenas, menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan 8 persen per tahun untuk keluar dari jebakan middle‑income trap.
Ia berkata, “Wajib dong (ekonomi tumbuh 8 persen), hukumnya wajib bukan sunah. Ekonomi Indonesia harus tumbuh lebih cepat agar dapat keluar dari middle income trap,” saat acara PLN CEO Insight pada 26 November.
Target 8 persen telah dimasukkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2025‑2045, menjadikannya acuan strategis bagi kebijakan fiskal dan investasi pemerintah.
Dengan data kuartal I yang menunjukkan pertumbuhan di atas 5 persen, pemerintah kini berada pada posisi untuk menilai apakah target ambisius tersebut dapat diwujudkan dalam sisa tahun ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan