Media Kampung – Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) merayakan 75 tahun berdiri pada 5 Mei 2026, menandai perjalanan panjang organisasi yang telah menjadi simbol kebanggaan nasional dalam olahraga bulutangkis.

Organisasi ini lahir pada 5 Mei 1951 di Bandung, ketika tokoh olahraga dari berbagai wilayah berkumpul untuk mengatasi fragmentasi kelembagaan pasca‑kemerdekaan.

Rochdi Partaatmadja terpilih sebagai ketua pertama, membentuk struktur dasar dan memastikan keanggotaan Indonesia di federasi internasional yang kala itu dikenal sebagai IBF.

Visinya menempatkan bulutangkis sebagai alat diplomasi, memperkenalkan Indonesia ke panggung dunia melalui kompetisi internasional.

Dick Sudirman mengambil alih kepemimpinan pada 1952 dan menjabat dalam dua periode (1952‑1963, 1967‑1981), mengubah PBSI dari peserta menjadi dominan dalam ajang Thomas Cup.

Di bawahnya Indonesia meraih empat gelar Thomas Cup beruntun antara 1970‑1979, sekaligus melahirkan legenda seperti Rudy Hartono dan Liem Swie King.

Sudirman juga dikenang lewat penamaan Piala Sudirman, turnamen beregu campuran paling bergengsi yang terus memperkuat citra Indonesia dalam bulutangkis global.

Masuk era 1980‑an, Try Sutrisno, seorang tokoh militer, memodernisasi manajemen PBSI dan mengantarkan prestasi tertinggi pada Olimpiade Barcelona 1992, ketika Susi Susanti dan Alan Budikusuma mengukir emas pertama bulutangkis di Olimpiade.

Prestasi itu dilengkapi dengan kemenangan Jakarta pada edisi pertama Piala Sudirman 1989, mempersembahkan penghormatan kepada almarhum Dick Sudirman.

Setelah Try Sutrisno, kepemimpinan Soerjadi dan Subagyo Hadisiswoyo mempertahankan dominasi Thomas Cup dengan lima gelar beruntun (1994, 1996, 1998, 2000, 2002) meski Indonesia tengah menghadapi krisis ekonomi 1998.

Era milenial menyaksikan masuknya profesional bisnis ke PBSI: Chairul Tanjung (2001‑2004) memperkenalkan efisiensi korporasi, diikuti Sutiyoso dan Djoko Santoso yang menekankan pengembangan wilayah dan kebugaran atlet.

Gita Wirjawan (2012‑2016) menekankan sport science, memperkenalkan kontrak individu dan sponsor profesional, yang berbuah medali dunia dan perak di Olimpiade Rio 2016 melalui pasangan ganda Ahsan/Setiawan dan Ahmad/Natsir.

Pandemi COVID‑19 menjadi ujian berat bagi Wiranto dan Agung Firman Sampurna, namun mereka tetap menorehkan emas Olimpiade Tokyo 2020 lewat Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, membuktikan ketangguhan sistem pembinaan.

Ketua umum terbaru, Fadil Imran, terpilih dalam Munas Surabaya 2024, kini menghadapi persaingan global yang lebih merata, dengan tantangan meningkatkan kualitas bibit dari Sabang sampai Merauke serta menjaga keunggulan di era digital.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.