Media Kampung – Rupiah kembali mencatat rekor terlemah dengan nilai tukar mendekati Rp 17.500 per dolar AS, menandai tekanan luar biasa pada pasar valuta asing Indonesia.
Pada Selasa 5 Mei 2026, nilai tukar resmi berada di level Rp 17.400 per dolar, sementara analis Ibrahim Assuaibi memperkirakan batas bawah dapat mencapai Rp 17.550 dalam minggu ini.
Assuaibi, pengamat pasar uang, menegaskan, “Rupiah yang mengalami pelemahan sudah di atas Rp 17.400. Target saya sendiri dalam minggu ini adalah di Rp 17.550. Kemungkinan besar akan tercapai.”
Ia menambahkan bahwa ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta serangan drone terhadap kilang minyak Rusia memperparah sentimen risk‑off investor global.
Bank Indonesia (BI) telah meningkatkan intervensi di pasar melalui transaksi Non‑Deliverable Forward (NDF) offshore, spot, dan Domestic NDF (DNDF) domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan, “Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.”
Erwin menekankan bahwa rupiah tidak melemah sendirian; mata uang regional seperti Philippine peso, Thailand baht, India rupee, Chile peso, dan Korea won juga mengalami depresiasi.
Data Bloomberg yang dikutip oleh BI menunjukkan bahwa rupiah menyentuh Rp 14.437 per dolar pada hari sebelumnya, mencatat rekor terburuk dalam sejarah modern Indonesia.
Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 % pada kuartal I‑2026, meski nilai tukar melemah.
Ekonomi yang kuat tidak serta merta menahan tekanan nilai tukar karena aliran modal keluar dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan volatilitas harga minyak mentah.
Harga minyak Brent dan WTI melonjak lebih dari 10 % setelah serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi Rusia, memperburuk beban impor energi Indonesia.
Bank Indonesia menegaskan bahwa intervensi akan terus berlanjut hingga pasar menunjukkan stabilitas yang konsisten dengan fundamental ekonomi domestik.
Para ekonom mengingatkan bahwa depresiasi tajam dapat meningkatkan beban impor, menekan inflasi, dan mengurangi daya beli masyarakat.
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimis, menyatakan bahwa surplus perdagangan yang melebar pada Maret memberi ruang bagi kebijakan fiskal yang mendukung.
Ia menambahkan bahwa program insentif bagi industri tekstil, alas kaki, dan kendaraan listrik tetap berjalan meski nilai tukar melemah.
Dalam konteks regional, Philippine peso melemah 6,58 %, Thailand baht 5,04 %, dan India rupee 4,32 % sejak awal konflik Timur Tengah.
Perbandingan ini menegaskan bahwa tekanan pada rupiah merupakan bagian dari gelombang global yang memengaruhi mata uang emerging market.
Bank Indonesia juga memantau likuiditas di pasar spot untuk menghindari penurunan tajam yang dapat memicu panic selling.
Menurut data internal BI, volume transaksi NDF meningkat 35 % dalam seminggu terakhir sebagai respons terhadap permintaan lindung nilai.
BI menegaskan bahwa kebijakan moneter tetap pada suku bunga acuan 6,00 % untuk menahan inflasi sambil memberikan ruang bagi intervensi nilai tukar.
Pengamat pasar Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa jika sentimen global tidak berubah, rupiah dapat menembus level Rp 17.600 dalam jangka pendek.
Namun, ia menambahkan bahwa tindakan proaktif BI dapat menahan pergerakan lebih jauh ke bawah.
Sejumlah lembaga internasional mencatat bahwa depresiasi mata uang emerging market dapat memperlambat pertumbuhan global jika tidak diimbangi kebijakan fiskal dan moneter yang tepat.
Di dalam negeri, Konsumen melaporkan kenaikan harga barang impor, terutama elektronik dan bahan baku industri, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi.
BI berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan sektor perbankan tetap likuid dan mampu memberikan kredit kepada sektor produktif.
Data inflasi konsumen pada awal Mei menunjukkan kenaikan tahunan sebesar 3,8 %, masih berada di bawah target Bank Indonesia namun menunjukkan tren naik.
Pemerintah berencana menunda beberapa subsidi bahan bakar untuk mengurangi beban fiskal yang dipicu oleh nilai tukar lemah.
Meski demikian, kebijakan fiskal tetap menjaga alokasi belanja pemerintah pada program bantuan sosial dan infrastruktur guna mendukung pertumbuhan.
Analisis terakhir menunjukkan bahwa kecenderungan nilai tukar akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan moneter Federal Reserve AS.
Jika Fed mempertahankan kebijakan ketat, aliran modal ke pasar emerging market dapat tetap terbatas, memperkuat tekanan pada rupiah.
Sementara itu, BI terus memantau pasar offshore untuk mengidentifikasi peluang intervensi yang dapat menstabilkan nilai tukar secara efisien.
Para pelaku pasar diharapkan tetap waspada dan mengoptimalkan strategi lindung nilai guna melindungi eksposur valuta asing mereka.
Dengan semua langkah tersebut, kondisi terbaru menunjukkan rupiah tetap berada di level Rp 17.400 per dolar, dengan potensi menembus Rp 17.500 dalam beberapa hari ke depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan