Media Kampung – 15 April 2026 | Warga Reje Payung, Aceh Tengah, masih bergumul dengan dampak banjir bandang yang melanda pada akhir April 2024, mengakibatkan ekonomi lumpuh dan anak‑anak terpaksa belajar di tenda karena sekolah hancur.

Banjir disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang meluapkan Sungai Samal, menenggelamkan permukiman seluas 12 kilometer persegi dan menenggelamkan hampir 2.300 rumah.

Mayoritas rumah yang rusak berupa bangunan kayu sederhana; lebih dari 60% struktur hunian dinyatakan tidak layak huni dan memerlukan rekonstruksi total.

Pasar tradisional di pusat desa terpaksa tutup sejak 5 Mei, mengakibatkan kehilangan pendapatan harian rata‑rata Rp150.000 per rumah tangga, sementara pedagang melaporkan penurunan penjualan hingga 80%.

Peternak lokal kehilangan 1.500 ekor ternak, termasuk kambing dan ayam, yang hanyut bersama aliran air, menambah beban ekonomi keluarga yang bergantung pada usaha peternakan.

Sekolah Dasar Negeri 03 Reje Payung masih dalam tahap perbaikan; sementara itu, guru sukarelawan mengadakan kelas belajar di tiga tenda yang dipasang di lapangan posko, melibatkan 420 anak usia 6‑12 tahun.

“Kami tidak ingin anak‑anak terhenti belajarnya, meski harus di tenda, karena pendidikan tetap menjadi harapan mereka,” ujar Kepala Desa Reje Payung, H. Ahmad Syarif, pada 12 Mei 2024.

Guru kelas 2A, Ibu Siti Nurhaliza, menambahkan, “Kondisi ruang belajar tidak ideal, tapi semangat anak tetap tinggi; kami berusaha tetap mengikuti kurikulum meski dengan bahan terbatas.”

Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mengirimkan bantuan sembako, air bersih, dan paket pemulihan ekonomi senilai Rp2 miliar, serta menugaskan tim teknik untuk memperbaiki akses jalan utama yang terkendala longsor.

Beberapa LSM, termasuk Yayasan Peduli Bencana Indonesia, menyalurkan paket bantuan pendidikan berupa buku pelajaran, alat tulis, dan lampu tenaga surya untuk mendukung proses belajar di tenda.

Jalan utama menuju Reje Payung terputus pada kilometer 3, menyulitkan distribusi bantuan; tim insinyur daerah memperkirakan perbaikan memerlukan waktu dua minggu.

Fasilitas kesehatan sementara yang didirikan di balai desa melaporkan peningkatan kasus diare dan kulit akibat kondisi sanitasi yang belum memadai, sehingga tim medis meningkatkan penyuluhan kebersihan.

Per 20 Mei 2024, 35% rumah telah selesai dibangun kembali, sementara 45% masih menunggu material; pemerintah provinsi berjanji menambah alokasi dana untuk percepatan rekonstruksi.

Kondisi saat ini menunjukkan warga masih mengandalkan bantuan kemanusiaan, namun semangat kolektif dan dukungan lintas sektor diharapkan mempercepat pemulihan ekonomi dan pendidikan di Aceh Tengah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.