Media KampungHarga minyak turun 3% pada perdagangan hari Selasa setelah gencatan senjata rapuh antara Amerika Serikat dan Iran menahan ketegangan di wilayah Teluk.

Penurunan itu terjadi meski pasokan global masih dipantau ketat, karena satu kapal kargo berhasil melintasi Selat Hormuz, jalur strategis utama pengiriman minyak.

Data Bloomberg menunjukkan Brent turun menjadi $84,70 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di $80,30, mencerminkan penurunan harga pertama dalam seminggu.

Analisis pasar energi di MSCI menilai bahwa pergerakan harga dipicu oleh harapan gencatan senjata dapat menahan eskalasi militer yang biasanya memicu lonjakan harga.

Gencatan senjata yang diumumkan pada Senin lewat pernyataan bersama antara Departemen Luar Negeri AS dan Kementerian Luar Negeri Iran belum secara resmi mengikat, namun memberi sinyal penurunan risiko geopolitik.

Menurut juru bicara Departemen Energi AS, “Kami terus memantau situasi di Selat Hormuz, namun kapal yang berhasil melintas menandakan jalur pengiriman tetap terbuka.”

Pengamat energi di Gulf Oil Institute menambahkan bahwa satu kapal yang melewati selat menurunkan kekhawatiran tentang kemungkinan penutupan total, yang biasanya mendorong spekulasi harga.

Selat Hormuz menyumbang sekitar 20% pengiriman minyak dunia, sehingga setiap gangguan dapat menimbulkan fluktuasi harga signifikan.

Keputusan kapal itu diambil setelah perwakilan keamanan Iran dan Amerika Serikat sepakat untuk mengamankan perairan selama periode gencatan senjata.

Namun, meskipun ada kemajuan, kedua belah pihak tetap menuduh satu sama lain melakukan provokasi, sehingga pasar tetap waspada.

Data Otoritas Energi Internasional (IEA) mencatat bahwa stok minyak mentah global tetap berada pada level 102,5 juta barel, menandakan tidak ada gangguan pasokan besar.

Investor di pasar berjangka memanfaatkan penurunan harga untuk menutup posisi short, yang berkontribusi pada penurunan lebih lanjut.

Bank-bank investasi besar seperti Goldman Sachs memperkirakan bahwa harga minyak dapat stabil di kisaran $82-$86 per barel jika gencatan senjata tetap terjaga selama minimal tiga minggu.

Sementara itu, produsen minyak utama di Timur Tengah, termasuk Saudi Aramco, menegaskan komitmen mereka untuk menjaga produksi pada level yang disepakati OPEC+.

Otoritas pasar modal Indonesia (OJK) mencatat bahwa penurunan harga minyak berdampak pada saham sektor energi di Bursa Efek Indonesia, dengan penurunan rata-rata 2,5% pada indeks LQ45.

Investor ritel di Indonesia merespons dengan menambah posisi beli pada saham energi yang dianggap undervalued setelah penurunan harga komoditas.

Di sisi lain, konsumen di negara berkembang dapat merasakan penurunan harga bensin dan diesel, meskipun dampaknya belum terasa secara signifikan.

Para analis menekankan bahwa situasi tetap dinamis; gencatan senjata dapat pecah kembali jika terjadi insiden militer kecil di perbatasan.

Sejauh ini, tidak ada laporan resmi tentang serangan kapal atau penangkapan kapal oleh pasukan militer di wilayah tersebut.

Kondisi ini menandai periode relatif tenang di pasar energi global, namun para pelaku pasar diingatkan untuk tetap waspada terhadap potensi volatilitas mendadak.

Dengan kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz dan gencatan senjata yang masih rapuh, harga minyak diproyeksikan akan bergerak dalam kisaran sempit selama beberapa hari ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.