Media Kampung – Timnas Indonesia U-17 menghadapi China pada laga pembuka Grup B Piala Asia U-17 2026 di Riyadh, Arab Saudi, pukul 23.30 WIB, menampilkan formasi lengkap yang diungkap pelatih Kurniawan Dwi Yulianto.
Formasi yang dipilih menitikberatkan pada penguasaan bola, dengan tiga pemain diaspora menambah dimensi teknis di lini tengah dan serangan.
Di bawah mistar gawang, Mike Rajasa, yang berlatih di FC Utrecht, ditunjuk sebagai kiper utama untuk menahan serangan fisik tim China.
Barisan belakang dipimpin veteran Mathew Baker dari Melbourne City, yang bersama Pandu Aryo, Farik Rizqi, dan Peres Akwila Tjoe diharapkan menutup ruang transisi cepat lawan.
Mathew Baker, yang pernah tampil di Piala Dunia U-17, membawa pengalaman internasional yang penting bagi lini pertahanan muda Indonesia.
Pandu Aryo, pemain Persik, berperan sebagai sayap kiri bertahan, sementara Farik Rizqi dari Adhyaksa FC menempati posisi tengah kiri dengan kecepatan dan ketangguhan.
Peres Akwila Tjoe, peraih pengalaman di Persija, mengisi posisi tengah kanan, menambah keseimbangan antara serangan dan pertahanan.
Lini tengah didominasi oleh Noha Pohan, yang bermain untuk NAC Breda, menjadi otak permainan dan pengatur tempo tim.
Bersama Noha, Fardan Farras dari Borneo FC, Dava Yunna dari Persebaya, serta Chico Jericho yang berlatih di ASIOP, menciptakan jaringan passing yang diharapkan menguasai area tengah.
Trio tengah ini diinstruksikan untuk menekan lawan secara kolektif, menjaga bola, dan membuka celah bagi penyerang.
Dua penyerang utama, Farrel Luckyta dari PSS dan Ichiro Akbar yang bernaung di Bhayangkara FC, menjadi tumpuan akhir dalam upaya mencetak gol melawan China.
Kecepatan Farrel dan kecerdikan Ichiro diharapkan memanfaatkan celah pertahanan lawan yang cenderung mengandalkan kekuatan fisik.
Selain starting XI, daftar pemain cadangan mencakup Abdulillah dan Noah sebagai kiper, serta pemain lapangan seperti Zidane, Arbi, dan Ekayana yang siap masuk bila diperlukan.
Pelatih Kurniawan menekankan taktik ball possession, berusaha menahan tekanan China dan mengendalikan ritme pertandingan melalui serangkaian umpan pendek dan pergerakan dinamis.
Strategi ini menjadi respons atas evaluasi besar-besaran tim pasca-Piala AFF, di mana manajemen menyoroti pentingnya penguasaan ruang dan transisi cepat.
Pertandingan ini juga disiarkan secara langsung oleh RCTI, memberikan kesempatan bagi pecinta sepak bola Indonesia menyaksikan perjuangan Garuda Muda pada malam itu.
Harapan besar mengalir dari para pendukung, yang menanti apakah taktik Kurniawan dapat menumbukkan “Tembok Besar” China dalam laga pembuka.
Jika Indonesia berhasil mengamankan tiga poin, peluang melaju ke fase knockout menjadi lebih terbuka, memperkuat posisi mereka di Grup B.
Sebaliknya, kekalahan akan menambah tekanan pada skuad muda untuk memperbaiki performa dalam dua laga berikutnya melawan tim lain di grup.
Saat jam berdentang, seluruh mata tertuju pada lapangan Riyadh, menunggu aksi pertama Timnas Indonesia U-17 yang penuh energi dan tekad.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan