Media Kampung – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro memperkuat upaya mitigasi kekeringan dengan menargetkan 73 desa di 20 kecamatan sebagai prioritas utama menjelang musim kemarau.

Data Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya menunjukkan bahwa desa‑desa tersebut masuk dalam peta rawan kekeringan, sehingga menjadi fokus penanganan daerah.

Pemkab melakukan penyisiran mendalam untuk memetakan kebutuhan teknis dan menyusun jadwal operasional distribusi air bersih di wilayah yang terancam.

Upaya ini dilaksanakan secara terpadu bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro agar penanganan lebih terarah dan tepat sasaran.

Selain itu, Pemkab menyelenggarakan pembinaan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) bersama camat, kepala desa, dan 73 pengurus HIPPAM dari 20 kecamatan.

Acara tersebut juga dihadiri perwakilan PDAM serta pihak terkait lainnya di ruang Anglingdharma Pemkab Bojonegoro.

Kepala Dinas PU Cipta Karya Kabupaten Bojonegoro, Satito Hadi, menegaskan pentingnya ketersediaan air bersih sebagai kebutuhan dasar, terutama saat musim kemarau.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kelembagaan HIPPAM, khususnya dalam manajemen mitigasi kekeringan. Dari 73 pengelola HIPPAM yang hadir, kami lakukan pendataan menyeluruh mulai dari kendala hingga kesiapan, agar masyarakat tidak mengalami kesulitan air saat kemarau,” ujar Satito Hadi pada Rabu (6/5).

Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menekankan bahwa akses air bersih menjadi prioritas utama pemerintah daerah menjelang musim kering.

“Sebanyak 73 desa ini merupakan wilayah prioritas yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Pemetaan pembangunan dan penguatan HIPPAM harus dilakukan secara bertahap, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa prediksi musim kemarau tahun ini diperkirakan dimulai sejak Mei dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September.

El Nino diperkirakan meningkatkan risiko kekeringan, sehingga langkah antisipatif menjadi krusial bagi ketahanan air daerah.

Dengan mengoptimalkan jaringan HIPPAM, Pemkab berharap dapat memastikan pasokan air bersih tetap tercukupi meski curah hujan berkurang.

Tim teknis juga melakukan pendataan kondisi infrastruktur penampungan, pompa, dan distribusi air di desa‑desa target.

Hasil survei akan menjadi dasar perencanaan investasi perbaikan fasilitas air pada fase berikutnya.

Setiap desa akan menerima jadwal distribusi air bersih yang disesuaikan dengan kebutuhan penduduk dan kondisi geografis.

Koordinasi dengan PDAM memastikan suplai air dari sumber utama dapat dialirkan ke jaringan desa secara berkelanjutan.

Program ini juga melibatkan pelatihan bagi pengurus HIPPAM dalam manajemen operasional, perawatan, dan pemantauan kualitas air.

Penguatan kapasitas kelembagaan diharapkan meningkatkan respons cepat terhadap potensi kekurangan air.

Latar belakang peningkatan risiko kekeringan didorong oleh fenomena iklim global yang memengaruhi pola hujan di Jawa Timur.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tren penurunan curah hujan selama beberapa tahun terakhir.

Dalam rangka memperkuat ketahanan air, Pemkab juga berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk memperoleh dukungan teknis dan pendanaan.

Beberapa desa akan mendapatkan instalasi pompa tenaga surya sebagai alternatif sumber energi bagi sistem distribusi air.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam mengintegrasikan energi terbarukan pada infrastruktur publik.

Selain itu, Pemkab berupaya meningkatkan partisipasi masyarakat melalui forum desa yang membahas strategi penghematan dan konservasi air.

Kegiatan penyuluhan ini menekankan pentingnya perilaku hemat air dalam rumah tangga dan pertanian.

Pengawasan berkelanjutan akan dilakukan oleh tim gabungan Dinas PU, BPBD, dan HIPPAM untuk memastikan efektivitas program.

Setiap bulan, laporan kemajuan akan diserahkan kepada Bupati dan Wakil Bupati sebagai bagian dari akuntabilitas publik.

Dengan langkah-langkah tersebut, Pemkab Bojonegoro berharap dapat meminimalkan dampak kekeringan pada sektor pertanian, kesehatan, dan kehidupan sehari‑hari.

Keberhasilan program akan menjadi contoh bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.