Media KampungRupiah terpuruk, Presiden Prabowo Subianto menyetujui tujuh langkah penguatan yang disiapkan Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar mata uang nasional, keputusan yang diumumkan setelah pertemuan terbatas antara Presiden dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka pada Selasa malam, 5 Mei 2024.

Penurunan nilai tukar rupiah selama beberapa hari terakhir menimbulkan kekhawatiran di pasar valuta asing, memaksa otoritas moneter mempercepat langkah-langkah kebijakan. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo telah memberi persetujuan penuh terhadap rangkaian strategi yang dirancang untuk menahan tekanan depresiasi dan memulihkan kepercayaan investor.

Langkah pertama menitikberatkan pada intervensi pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Perry menegaskan, “Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu,” menandakan kesiapan bank sentral untuk membeli atau menjual dolar secara aktif guna menahan fluktuasi berlebih.

Strategi kedua dan ketiga berfokus pada penguatan arus modal dan koordinasi fiskal‑moneter melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Perry menjelaskan, “Kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow sehingga inflow‑nya SRBI bisa mencukupi aliran keluarnya SBN dan saham,” menambahkan bahwa aliran masuk portofolio asing masih positif sejak awal tahun. Selanjutnya, Bank Indonesia akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder; hingga akhir tahun berjalan, pembelian mencapai Rp 123,1 triliun, dan kemungkinan buyback akan dipertimbangkan untuk menambah likuiditas pasar obligasi.

Strategi keempat menekankan pentingnya menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar. Perry mencatat pertumbuhan uang primer mencapai 14,1 persen, menandakan pasokan likuiditas yang memadai. Strategi kelima memperketat pembelian dolar AS di pasar domestik, menurunkan batas maksimal pembelian tanpa underlying aset fisik dari US$100.000 menjadi US$50.000 per orang per bulan.

Perry menambahkan bahwa Bank Indonesia sedang menyiapkan penurunan lebih lanjut menjadi US$25.000 per orang per hari, dengan persyaratan penggunaan underlying bagi transaksi di atas batas tersebut. “Itu yang kami langsung koordinasi dengan KSSK untuk penguatan‑penguatan,” ujar Perry, menegaskan sinergi antara otoritas moneter dan regulator keuangan dalam mengendalikan aliran valuta asing.

Langkah keenam melibatkan perluasan intervensi di pasar offshore melalui perdagangan non‑deliverable forward (NDF). Perry menyatakan, “Kami juga membolehkan bank‑bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri sehingga pasokan lebih banyak dan itu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar rupiah,” menandakan upaya menambah likuiditas dolar di pasar internasional.

Langkah ketujuh menitikberatkan pada pengawasan ketat terhadap aktivitas perbankan dan korporasi melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Kami kirim pengawas ke bank‑bank korporasi yang aktivitas pembelian dolar tinggi, koordinasi dengan Bu Frederika Widyasari Ketua OJK untuk memastikan stabilitas sistem keuangan terjaga,” kata Perry, menegaskan bahwa pengawasan lintas lembaga menjadi bagian integral dari kebijakan stabilitas.

Dengan ketujuh strategi tersebut, Bank Indonesia berharap nilai tukar rupiah dapat kembali menguat dan tetap stabil ke depan, sementara koordinasi antara moneter, fiskal, dan regulator diharapkan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Pada akhir pertemuan, Perry menegaskan komitmen berkelanjutan untuk menyesuaikan kebijakan sesuai perkembangan pasar, menandai langkah proaktif pemerintah dalam menghadapi tantangan nilai tukar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.