Media Kampung – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non‑subsidi pada 4 Mei 2026 membuat biaya mengisi penuh mobil diesel kini setara dengan cicilan motor matic, menambah beban pengeluaran pemilik kendaraan di Jakarta.

PT Pertamina (Persero) resmi menyesuaikan tarif diesel, mengumumkan perubahan harga di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada hari yang sama.

Harga Pertamina Dex melonjak menjadi Rp27.900 per liter, naik dari Rp23.900 sebelumnya, sedangkan Dexlite dibanderol Rp26.000 per liter, naik dari Rp23.600.

Untuk mengisi penuh tangki 80 liter Toyota Fortuner dengan Pertamina Dex, pemilik kini harus mengeluarkan Rp2.232.000.

Mitsubishi Pajero Sport berkapasitas 68 liter memerlukan Rp1.897.200 untuk satu kali pengisian penuh.

Hyundai Palisade dengan tangki 71 liter menelan biaya Rp1.980.900 per full tank.

Toyota Kijang Innova Diesel berisi Dexlite pada tangki 55 liter menelan total Rp1.430.000.

“Hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun, biaya mengisi penuh tangki mobil diesel naik hampir satu juta rupiah per tangki,” ujar seorang pemilik Fortuner yang menegaskan beban biaya yang meningkat.

Jika pemilik mengisi penuh empat kali dalam sebulan, total pengeluaran hampir Rp10 juta, setara dengan dua kali upah minimum regional (UMR) Jakarta.

Meski biaya per liter naik, mesin diesel tetap menawarkan jarak tempuh 750‑1.100 km per full tank, menjadikannya pilihan masih relevan untuk perjalanan jauh.

Perbandingan regional menunjukkan diesel di Semenanjung Malaysia berharga sekitar RM5,32 (sekitar Rp23.285 per liter), lebih murah Rp4.600 dibandingkan tarif Indonesia.

Dengan harga Pertamax berada di Rp12.300 per liter, selisih dua kali lipat antara bensin dan diesel dapat mendorong konsumen beralih ke kendaraan hybrid atau listrik demi efisiensi biaya.

Kenaikan ini menandai titik balik era dominasi mesin diesel, memaksa pemilik menanggung pengeluaran jutaan rupiah tiap kali mampir ke pompa.

Pemerintah menjelaskan penyesuaian harga non‑subsidi disebabkan oleh fluktuasi pasar minyak dunia pasca‑geopolitik yang memicu lonjakan harga internasional.

Secara keseluruhan, peningkatan tarif diesel menambah beban biaya operasional kendaraan, sekaligus membuka peluang bagi alternatif energi bersih di pasar otomotif Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.