Media Kampung – 15 April 2026 | Harga manggis di Banyuwangi mencapai rekor baru sebesar Rp 80 ribu per kilogram, menandai lonjakan signifikan dibandingkan catatan historis sebelumnya.
Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi mengonfirmasi bahwa harga tersebut merupakan nilai tertinggi yang pernah tercatat pada musim panen tahun ini.
Sebelumnya, harga tertinggi manggis di wilayah ini hanya mencapai Rp 20 ribu per kilogram, sehingga peningkatan ini menandakan perubahan struktural pasar.
“Ini bukan sekadar kenaikan, melainkan ‘ganti harga’ yang mengubah dinamika perdagangan,” ujar Kepala Dispertan Banyuwangi, Danang Hartanto pada Rabu (15/4).
Danang mencontohkan perubahan serupa pada kopi robusta tahun 2023, yang melonjak dari Rp 35 ribu menjadi Rp 90 ribu per kilogram, menunjukkan potensi nilai tambah bagi komoditas lokal.
Dengan luas tersebut, total produksi diprediksi mencapai 4.897,53 ton, mencerminkan peningkatan kapasitas produksi secara keseluruhan.
Produktivitas rata-rata tercatat sebesar 95,9 ton per hektare, menandakan efisiensi agrikultur yang cukup tinggi di wilayah ini.
Daerah penghasil manggis tersebar di Kecamatan Sempu, Kalipuro, Songgon, Licin, dan Genteng, yang masing-masing berkontribusi pada total produksi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur tahun 2022 menegaskan bahwa Banyuwangi menjadi produsen manggis terbesar di provinsi, bersaing ketat dengan Kabupaten Jember.
“Kami melihat momentum ini sebagai peluang, sehingga Dispertan akan memfasilitasi segala hal yang berkaitan dengan pengembangan tanaman manggis,” tegas Danang.
Namun, harga tinggi belum tentu dirasakan semua petani, karena sebagian mengalami gagal panen dan tidak memperoleh manfaat maksimal.
Dispertan menargetkan peningkatan produktivitas melalui penyuluhan, penyediaan bibit unggul, dan dukungan teknis kepada petani.
Ekspor manggis juga menjadi fokus, dengan tiga perusahaan berlisensi yang telah memiliki tanda daftar gudang di Kabupaten Banyuwangi.
Perusahaan-perusahaan tersebut menyalurkan produk ke pasar internasional, memperluas jangkauan ekspor buah lokal.
Keberhasilan ekspor berpotensi meningkatkan pendapatan petani, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat ekonomi daerah.
Pemerintah daerah berencana memperkuat infrastruktur penyimpanan dan transportasi untuk mendukung rantai pasok yang lebih efisien.
Pelatihan manajemen kebun dan pemasaran juga akan diselenggarakan guna meningkatkan kompetensi petani dalam menghadapi pasar global.
Sampai kini, harga manggis tetap berada di level Rp 80 ribu per kilogram, dan Dispertan terus memantau dinamika pasar untuk memastikan kesejahteraan petani tetap terjaga.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan