Media Kampung – Menteri Perdagangan (Mendag) Indonesia menyatakan bahwa beberapa negara di Timur Tengah menunjukkan minat kuat untuk menandatangani perjanjian dagang dengan Republik Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya memperkuat hubungan ekonomi bilateral di tengah dinamika geopolitik regional.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang diadakan pada 2 Mei 2026 di Jakarta, bertepatan dengan hasil pertemuan Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community Council) yang menekankan pentingnya stabilitas rantai pasok global.
Dalam rapat ASEAN yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan Filipina Cristina Roque, para menteri ekonomi sepakat untuk memperkuat koordinasi logistik, mempercepat pertukaran informasi, dan menjaga kelancaran infrastruktur pelabuhan serta bandara.
“Kami menegaskan kembali betapa krusialnya menjaga jalur perdagangan maritim yang aman, berkelanjutan, dan tahan banting, terutama bagi barang dan jasa esensial,” ujar Roque dalam pernyataan bersama.
Data yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan negara‑negara Timur Tengah pada tahun 2025 mencapai US$3,2 miliar, dengan peningkatan 12% dibandingkan tahun sebelumnya.
Negara‑negara yang disebutkan meliputi Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar, yang masing‑masing mengekspresikan keinginan untuk memperluas akses pasar produk pertanian, barang manufaktur, dan teknologi bersih Indonesia.
“Kami melihat peluang besar dalam produk pangan, terutama beras dan kelapa sawit, serta barang elektronik yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen di wilayah kami,” kata duta besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab, Ahmad Rizal, dalam pertemuan bilateral.
Para menteri ASEAN juga menegaskan tidak akan memberlakukan langkah non‑tarif yang tidak perlu selama krisis, dan menekankan pentingnya membuka kembali infrastruktur perbatasan, pelabuhan, dan bandara yang terdampak konflik.
Kesepakatan tersebut mencakup rencana ratifikasi Protokol Kedua untuk Mengamendemen Perjanjian Perdagangan Barang ASEAN pada tahun ini, yang diharapkan dapat meningkatkan mekanisme penyelesaian sengketa dan transparansi perdagangan.
Penguatan rantai pasok menjadi fokus utama, mengingat dampak konflik di Timur Tengah terhadap harga energi global, ketahanan pangan, dan transportasi laut yang dapat mengganggu UMKM di Asia Tenggara.
“Langkah darurat yang tepat sasaran, proporsional, dan transparan diperlukan untuk melindungi sektor usaha kecil tanpa menciptakan hambatan perdagangan,” ujar Menteri Perdagangan Indonesia, Zulkifli Hasan.
Kondisi terkini menunjukkan bahwa negosiasi perjanjian dagang antara Indonesia dan Uni Emirat Arab telah memasuki tahap final, dengan draft perjanjian yang diharapkan ditandatangani pada KTT ASEAN ke‑48 di Cebu pada 8 Mei 2026.
Jika perjanjian tersebut disepakati, tarif impor produk pertanian Indonesia ke Uni Emirat Arab dapat diturunkan hingga 20%, sementara barang‑barang manufaktur Indonesia akan memperoleh akses pasar bebas di wilayah tersebut.
Selain Uni Emirat Arab, delegasi dari Arab Saudi juga mengajukan proposal kerjasama di bidang energi terbarukan, termasuk investasi bersama dalam proyek tenaga surya di provinsi Nusa Tenggara Barat.
“Kami berkomitmen mendukung transisi energi hijau Indonesia, yang sejalan dengan agenda dekarbonisasi global,” ujar Menteri Energi Saudi, Faisal Al‑Mansour.
Negosiasi tersebut diharapkan dapat menambah volume ekspor Indonesia dalam sektor energi terbarukan setidaknya 15% pada akhir 2026.
Pihak Kedutaan Besar Qatar menekankan potensi kerjasama di sektor pariwisata medis, mengingat peningkatan kunjungan wisatawan kesehatan ke Indonesia dalam dua tahun terakhir.
“Kerjasama ini dapat memperluas jaringan layanan kesehatan berkualitas tinggi, sekaligus meningkatkan pendapatan devisa bagi kedua negara,” jelas duta besar Qatar, Laila Al‑Hamad.
Seluruh inisiatif tersebut selaras dengan visi pemerintah Indonesia untuk meningkatkan nilai ekspor non‑migas menjadi US$150 miliar pada 2027.
Analisis Kementerian Perdagangan menilai bahwa perjanjian dagang dengan negara Timur Tengah dapat menyumbang tambahan US$2,5 miliar dalam tiga tahun pertama.
Selain itu, ASEAN berkomitmen untuk memastikan bahwa langkah‑langkah darurat tetap bersifat sementara dan tidak menimbulkan distorsi pasar yang berkelanjutan.
“Kebijakan harus konsisten dengan aturan WTO dan prinsip‑prinsip perdagangan bebas yang kita junjung tinggi,” tegas perwakilan WTO di Jakarta, Maria Santos.
Secara keseluruhan, langkah ini mencerminkan upaya bersama ASEAN dan Indonesia untuk menjaga stabilitas ekonomi global sambil memperluas jaringan perdagangan dengan mitra strategis di Timur Tengah.
Dengan perjanjian dagang yang sedang dalam proses, diharapkan hubungan bilateral akan semakin kuat, memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi kedua belah pihak.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan