Media Kampung – 16 April 2026 | MUI dorong penyelesaian konflik global lewat dialog, tolak kekerasan, menegaskan bahwa perdamaian harus ditempuh tanpa memicu kehancuran bagi pihak manapun.

Pernyataan ini disampaikan pada 15 April 2026 di Istana Negara, Jakarta, oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH. Yusuf Mansur, dalam rapat bersama kementerian luar negeri dan organisasi kemanusiaan.

Majelis menekankan bahwa dialog adalah mekanisme paling efektif untuk meredakan ketegangan yang berujung pada korban sipil dan kerusakan infrastruktur.

Situasi terkini di Ukraina, Sudan, dan wilayah Palestina‑Israel menjadi contoh nyata bagaimana kekerasan memperparah penderitaan manusia.

“Kami menegaskan bahwa Islam mengajarkan penyelesaian sengketa dengan musyawarah, bukan dengan senjata,” ujar KH. Yusuf Mansur dalam sambutannya.

Landasan tersebut diambil dari Al‑Qur’an dan Hadis yang menekankan pentingnya keadilan, kasih sayang, serta menghindari tindakan yang menimbulkan fitnah.

Sejak 2016, MUI pernah memediasi konflik di Maluku Utara, menghasilkan gencatan senjata dan proses rekonsiliasi yang berkelanjutan.

Pengamat internasional mencatat bahwa peran lembaga keagamaan seperti MUI dapat menambah dimensi moral dalam diplomasi multilateral.

Indonesia, sebagai negara mayoritas Muslim dengan kebijakan luar negeri bebas‑aktif, mendukung resolusi damai melalui Perserikatan Bangsa‑Bangsa.

Sebaran pesan damai MUI diharapkan dapat menginspirasi organisasi keagamaan lain di dunia untuk turut mengadvokasi dialog.

Majelis menyerukan kepada semua pemerintah agar menahan penggunaan kekuatan militer yang dapat memperpanjang konflik.

Pernyataan ini menyoroti dampak humaniter, termasuk pengungsi, kelaparan, dan kerusakan fasilitas kesehatan.

MUI juga mengusulkan agar Dewan Keamanan PBB memperkuat mandat mediasi yang melibatkan tokoh agama dan masyarakat sipil.

Jika kekerasan terus berlanjut, konsekuensinya meliputi meningkatnya radikalisme, krisis migrasi, dan beban ekonomi global yang berat.

Di sisi lain, penyelesaian damai dapat membuka peluang rekonstruksi, investasi, dan stabilitas politik jangka panjang.

Majelis menutup pertemuan dengan komitmen membentuk tim khusus yang akan berkoordinasi dengan lembaga internasional untuk memfasilitasi dialog.

Saat ini, konflik di beberapa wilayah masih bergejolak, namun ada sinyal positif dari pihak mediator lokal yang mengindikasikan kemauan berunding.

Harapan MUI tetap tinggi bahwa upaya dialog dapat meredam kekerasan dan menumbuhkan perdamaian berkelanjutan bagi seluruh umat manusia.

Langkah selanjutnya mencakup penyusunan rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada presiden dan kementerian terkait dalam minggu mendatang.

Dengan dukungan luas, MUI optimis dialog akan menjadi jalur utama penyelesaian sengketa internasional, menggantikan pola kekerasan yang telah lama menghantui dunia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.