Media Kampung – Tottenham Hotspur berada di zona berbahaya dengan ancaman degradasi, sementara pelatih baru Roberto De Zerbi menegaskan perlunya semangat “mati di lapangan” untuk menghindari jatuh ke divisi dua.

Setelah 34 pertandingan, The Lilywhites menempati posisi ke‑18 dengan 34 poin, hanya dua angka di atas West Ham United yang berada di zona aman.

De Zerbi menolak pikiran negatif dan menekankan bahwa tim harus berjuang hingga peluit akhir, ia berkata, “Kita harus mati di lapangan, dan untuk mati di lapangan, kita harus bermain keras”.

Pelatih ketiga musim ini, De Zerbi, datang pada akhir Maret 2026 menggantikan Igor Tudor yang hanya mengisi kursi kepelatihan selama kurang dari dua bulan setelah Thomas Frank dipecat.

Empat laga tersisa meliputi pertemuan melawan Aston Villa, Leeds United, Chelsea, dan Everton, yang masing‑masing menjadi peluang kritis untuk mengumpulkan poin.

Dengan jarak dua poin dari zona aman, Tottenham harus menyalip West Ham atau berharap lawan di zona bawah lainnya terjatuh.

De Zerbi menambahkan, “Suara negatif hanya memperlambat, hanya pecundang yang menangis. Kita harus menenangkan pikiran dalam diri pemain, staf, dan suporter”.

Suporter Tottenham, yang dikenal fanatik, menuntut hasil positif, namun tekanan media dan kritikan publik menambah beban mental pada skuad.

Klub ini pernah memenangkan dua gelar Liga Inggris, namun sejak 2015 performa menurun dan kini mengancam kehilangan status Premier League.

Statistik tiga pertemuan terakhir De Zerbi dengan Tottenham menghasilkan satu kemenangan, satu kekalahan, dan satu hasil imbang, menandakan hasil yang belum pasti.

Jika Tottenham berhasil meraih setidaknya satu kemenangan dalam empat laga, peluang tetap ada untuk mengamankan tempat aman, terutama bila West Ham gagal menambah poin.

Menjelang laga melawan Aston Villa pada 4 Mei 2026, De Zerbi menegaskan bahwa fokus utama adalah melawan rasa takut, bukan meratapi kemungkinan degradasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.