Media Kampung – Disney Adults kini menjadi sorotan utama media setelah laporan menunjukkan bahwa para penggemar setia Walt Disney Company menghabiskan hingga lima digit uang kredit untuk mengakses dunia magis taman hiburan.

Kasus nyata datang dari Ashley, mahasiswi Quinnipiac University, yang pada 2023 memiliki saldo $15.000 dan dalam dua tahun menghabiskan hampir semua uangnya untuk mengunjungi Walt Disney World sebanyak enam kali.

Pekerjaannya di Disney College Program hanya memberi $400 per minggu setelah pemotongan sewa, namun ia tetap menghabiskan uang untuk makanan, merchandise, dan koleksi pin Disney.

Akibatnya, Ashley menumpuk utang kartu kredit sekitar $1.000 dan harus meminta bantuan orang tua untuk melunasinya.

Survei LendingTree Juni 2024 terhadap lebih dari dua ribu orang dewasa di Amerika menemukan hampir seperempat pengunjung Disney pernah berutang untuk perjalanan tersebut.

Generasi Z, termasuk Ashley, menjadi kelompok paling rentan, sementara 45% orang tua melaporkan utang rata-rata hampir $2.000 untuk mengantar anak ke taman.

Data forum daring bahkan mencatat pasangan yang mengajukan pinjaman hingga $70.000 sebagian untuk liburan Disneyland.

Peneliti AJ Wolfe menilai bahwa budaya koleksi merchandise dan status sosial menciptakan hierarki “elder” di antara para Disney Adults.

Wolfe menyamakan dinamika ini dengan praktik keagamaan, di mana anggota berusaha mencapai pengakuan dalam komunitas.

Sementara itu, BBC menyiarkan video yang menampilkan lagu-lagu Disney klasik yang diinterpretasikan dalam Bahasa Isyarat Amerika (ASL) oleh performer teater tuli.

Karakter Moana, Encanto, dan Frozen menampilkan gerakan isyarat yang sinkron dengan vokal, memperluas aksesibilitas bagi penonton tuli.

Inisiatif ini menandai upaya Disney Animation Studios meningkatkan inklusivitas dalam produksi musiknya.

Di Asia, Disney On Ice 2026 akan digelar di Istora Senayan, Jakarta, mulai 1‑3 Mei 2026, menampilkan lebih dari 55 karakter ikonik.

Acara tersebut menampilkan debut karakter Asha dan Star dari film Wish, serta Raya dari Raya and the Last Dragon yang melakukan akrobatik di atas es.

Penonton juga akan diajak bernyanyi bersama Elsa dan Anna melalui lagu “Into the Unknown” dalam pertunjukan yang dipandu oleh Jiminy Cricket.

Tiket masih tersedia dan diperkirakan cepat terjual mengingat antusiasme besar masyarakat Indonesia terhadap Disney.

Di sisi bisnis, CEO baru Disney tengah menjajaki pengembangan “super app” yang mengintegrasikan tiket taman, layanan streaming, dan penjualan merchandise dalam satu platform.

Konsep ini diharapkan menyederhanakan proses pemesanan bagi konsumen sekaligus meningkatkan data analitik perilaku pembeli.

Pada bidang film, Disney memperkirakan pendapatan box office awal “The Mandalorian and Grogu” akan mencapai $80 juta selama akhir pekan Memorial Day 2026.

Angka tersebut jauh di bawah $177,3 juta yang dicapai “Star Wars: The Rise of Skywalker” pada 2019, dan bahkan di bawah $84 juta debut “Solo: A Star Wars Story”.

Meski begitu, estimasi anggaran produksi “The Mandalorian and Grogu” hanya $160 juta, menjadikannya film Star Wars terhemat biaya dalam sejarah Disney.

Produser Jon Favreau menegaskan film ini ditujukan untuk generasi baru penonton, berharap menumbuhkan kembali kecintaan pada saga Star Wars.

Secara keseluruhan, fenomena Disney Adults, inovasi inklusif dalam musik, pertunjukan on‑ice di Jakarta, serta strategi digital dan sinema baru menunjukkan bagaimana Disney beradaptasi dengan dinamika ekonomi dan budaya konsumen global.

Pengamat menilai bahwa meskipun utang konsumen meningkat, daya tarik magis Disney tetap menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan pendapatan perusahaan.

Situasi terkini menunjukkan bahwa Disney terus memperluas ekosistemnya, sambil menghadapi tantangan keuangan di kalangan penggemar paling setia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.