Media Kampung – Danantara menargetkan Danareksa Rp185 triliun sebagai aset yang dikelola setelah restrukturisasi, menjadikannya pengelola aset nomor dua di Indonesia.
Pengumuman resmi disampaikan Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, pada sela‑sela acara Jakarta Globe Insight di Jakarta, Selasa 28 April 2026.
Restrukturisasi mencakup spin‑off unit bisnis yang tidak sejalan dengan fokus pengelolaan aset, termasuk kawasan industri, konstruksi, clearing house, dan jasa keuangan.
Unit‑unit tersebut akan dipindahkan ke holding sektoral masing‑masing, sehingga Danareksa dapat beroperasi sebagai perusahaan aset‑management yang terpusat.
Dony Oskaria menjelaskan, “Dia (Danareksa) tidak holding lagi. Tapi merger menjadi satu company yang kuat dan itu akan menjadi asset management yang nomor dua terbesar.”
Proses pemisahan diperkirakan selesai pada pertengahan Mei, dengan pengumuman final dijadwalkan pada 10 Mei 2026.
Integrasi MI Himbara ke dalam Danareksa menjadi kunci utama peningkatan AUM, karena dana kelolaan Himpunan Bank Milik Negara saat ini mencapai Rp185 triliun.
Dengan konsolidasi tersebut, total aset yang dikelola diproyeksikan mencapai Rp185 triliun, sesuai dengan target yang diumumkan oleh Danantara.
Pemerintah berharap model bisnis baru ini akan meningkatkan efisiensi, memperkuat tata kelola, dan memaksimalkan nilai aset negara secara profesional.
Transformasi ini juga diharapkan dapat menarik lebih banyak investor institusional, mengingat reputasi Danareksa sebagai lembaga keuangan milik negara.
Sebagai bagian dari strategi hilirisasi, Danantara menyiapkan 13 proyek senilai Rp116 triliun yang akan dibiayai sebagian oleh dana yang dikelola Danareksa.
Proyek‑proyek tersebut mencakup pembangunan kilang gasoline di Dumai, fasilitas DME di Tanjung Enim, serta hilirisasi nikel di Morowali.
Penggabungan MI Himbara juga memperkuat posisi Danareksa dalam pasar modal, memberikan basis dana yang stabil untuk investasi jangka panjang.
Analis pasar menilai bahwa peningkatan AUM hingga Rp185 triliun dapat meningkatkan kapasitas pinjaman Danareksa kepada sektor produktif.
Namun, para pengamat menekankan pentingnya manajemen risiko yang ketat, terutama mengingat volatilitas pasar global dan nilai tukar.
Dony Oskaria menambahkan, “Dengan model baru, kami dapat mengoptimalkan alokasi aset, meningkatkan profitabilitas, dan memperluas layanan kepada klien korporasi dan ritel.”
Konsolidasi lintas sektor ini juga akan mengurangi duplikasi fungsi, sehingga biaya operasional dapat ditekan secara signifikan.
Pemerintah melalui Kementerian BUMN mengawasi proses restrukturisasi untuk memastikan kepatuhan pada regulasi perbankan dan pasar modal.
Jika semua tahapan berjalan sesuai rencana, Danareksa akan resmi beroperasi sebagai asset management pada akhir Juni 2026.
Hingga saat ini, belum ada laporan hambatan signifikan, dan semua pihak menyatakan kesiapan untuk melaksanakan transformasi yang dijadwalkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan