Media Kampung – Pertamina Hulu Indonesia (PHE) melaporkan bahwa produksi migasnya telah melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 2026, berkat penawaran 31 struktur idle melalui skema Kerjasama Operasi Terbuka (KSOT).
Target produksi yang awalnya ditetapkan sebesar 1,1 juta barel per hari berhasil terlampaui menjadi 1,15 juta barel per hari pada kuartal ketiga 2026, menandai peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Strategi KSOT memungkinkan PHE untuk mengoptimalkan aset yang sebelumnya tidak produktif, dengan melibatkan mitra operasional untuk mengelola fasilitas idle secara efisien.
Menurut Direktur Operasi PHE, Irwan Santosa, “Skema KSOT membuka peluang bagi kami untuk menghidupkan kembali struktur‑struktur yang selama ini tidak beroperasi, sekaligus menambah volume produksi tanpa memerlukan investasi besar pada infrastruktur baru.”
Penawaran 31 struktur idle mencakup sumur, platform lepas pantai, dan fasilitas pengolahan yang tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.
Setiap struktur dipilih berdasarkan analisis teknis dan ekonomi yang menunjukkan potensi peningkatan produksi minimal 2‑3 % per unit.
Implementasi KSOT didukung oleh kebijakan pemerintah yang memprioritaskan peningkatan produksi dalam negeri untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPHMG) mencatat bahwa kontribusi struktur idle yang diaktifkan menambah produksi sebesar 55.000 barel per hari secara kolektif.
PHE juga menegaskan komitmennya terhadap standar keamanan dan lingkungan, dengan audit independen yang memastikan tidak ada dampak negatif pada ekosistem laut.
“Keamanan operasional tetap menjadi prioritas utama kami; setiap struktur yang diaktifkan harus memenuhi standar internasional yang ketat,” tegas Kepala Departemen Keselamatan Lingkungan, Lina Kartika.
Selain meningkatkan produksi, skema KSOT diharapkan menurunkan biaya operasional keseluruhan, karena pemeliharaan struktur idle yang sebelumnya tidak terpakai menjadi lebih terstruktur.
Analisis keuangan internal PHE memperkirakan penghematan biaya operasional hingga 12 % per tahun, yang akan dialokasikan kembali untuk investasi teknologi hijau.
Kebijakan ini selaras dengan agenda transisi energi nasional, dimana Pertamina menargetkan peningkatan proporsi energi terbarukan hingga 23 % pada 2028.
Dalam konteks tersebut, PHE berencana mengintegrasikan proyek pengolahan gas cair (LNG) di dekat beberapa struktur yang diaktifkan, guna memanfaatkan gas yang sebelumnya terbuang.
“Pengoptimalan aset lama sekaligus menyiapkan infrastruktur bagi energi bersih merupakan langkah strategis kami,” ujar Direktur Strategi Bisnis Pertamina, Rudi Hartono.
Kondisi pasar global yang tidak menentu, terutama fluktuasi harga minyak, menambah urgensi bagi PHE untuk meningkatkan produksi dalam negeri demi mengurangi ketergantungan pada impor.
Dengan pencapaian ini, PHE menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen migas utama di Asia Tenggara, sekaligus memperkuat cadangan energi nasional.
Ke depan, PHE akan terus memantau kinerja struktur yang diaktifkan dan menilai potensi penambahan struktur idle lainnya dalam kerangka KSOT, guna menjaga momentum produksi yang telah tercapai.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan