Media Kampung – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pentingnya peran perempuan dalam perekonomian nasional pada peringatan Hari Kartini 2026, dengan tema “Perempuan Hebat, Indonesia Kuat”. Pernyataan tersebut menekankan bahwa kontribusi perempuan merupakan pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Acara yang berlangsung di Jakarta pada 23 April 2026 ini dihadiri oleh pejabat tinggi kementerian, perwakilan dunia usaha, serta aktivis pemberdayaan perempuan, menandai komitmen pemerintah untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam kebijakan fiskal. Selama sambutan, Menkeu menyoroti transformasi peran perempuan dari skala rumah tangga ke arena ekonomi makro.

Menkeu membuka pidatonya dengan refleksi sederhana mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga, menyebut bahwa perempuan sejak lama menjadi penjaga anggaran keluarga, menabung, dan mengatur prioritas belanja. Ia berargumen bahwa keahlian tersebut dapat dioptimalkan untuk menggerakkan investasi produktif di tingkat nasional.

“Jika dalam kehidupan berumah tangga, perempuan sudah terbiasa mengelola keuangan keluarga, maka peran mereka di tingkat nasional tidak kalah penting,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pidatonya. Kutipan ini menegaskan bahwa keterampilan finansial perempuan dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan inklusif.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah meluncurkan program “Finansialisasi Perempuan 2026‑2028” yang menargetkan pemberian akses kredit mikro kepada 1,2 juta usaha mikro milik perempuan, serta pelatihan literasi keuangan digital. Program ini diharapkan memperluas basis peminjam produktif dan mengurangi kesenjangan akses pembiayaan.

Di sektor ekonomi digital, perempuan kini menyumbang 28 persen dari total startup yang terdaftar pada tahun 2025, dengan fokus pada e‑commerce, fintech, dan layanan kreatif. Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Kemenkeu menyediakan hibah teknologi sebesar Rp 150 miliar untuk mempercepat skala usaha perempuan di bidang tersebut.

Pembiayaan inklusif juga menjadi agenda utama, dimana Bank Indonesia mengatur penurunan suku bunga bagi kredit usaha perempuan hingga 0,5 poin persentase. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan daya saing produk lokal yang dikelola oleh perempuan di pasar global.

Target pemerintah untuk tahun 2028 adalah meningkatkan kontribusi perempuan terhadap PDB menjadi minimal 45 persen, selaras dengan visi “Indonesia Kuat” yang menempatkan gender sebagai faktor strategis dalam pembangunan ekonomi. Pencapaian target ini akan diukur melalui indeks kesetaraan gender yang dimasukkan ke dalam laporan tahunan APBN.

Secara global, negara‑negara maju telah membuktikan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam tenaga kerja berbanding lurus dengan pertumbuhan produktivitas nasional, contoh Jepang dan Korea Selatan mencatat kenaikan PDB sebesar 0,8‑1,2 persen setelah mengimplementasikan kebijakan keseimbangan kerja‑keluarga. Indonesia bertekad mengikuti jejak tersebut dengan menyesuaikan regulasi ketenagakerjaan.

Konteks sosial‑ekonomi Indonesia yang masih dipengaruhi oleh norma tradisional menuntut upaya sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil untuk mengubah persepsi mengenai peran perempuan. Edukasi gender di sekolah serta kampanye media massa menjadi bagian integral dari strategi perubahan budaya.

Menjelang akhir acara, Menkeu mengumumkan peluncuran portal data terbuka “Women Economy Dashboard” yang akan menampilkan statistik real‑time mengenai partisipasi, pendapatan, dan akses pembiayaan perempuan di seluruh provinsi. Langkah ini diharapkan meningkatkan transparansi dan memperkuat basis kebijakan berbasis bukti dalam upaya memperkuat ekonomi nasional melalui perempuan hebat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.