Media KampungHarga emas diproyeksikan terus menguat pada pekan depan seiring ketegangan AS‑Iran masih tarik‑ulur.

Survei Kitco News menunjukkan mayoritas analis dan investor kembali bullish, dengan 80% analis Wall Street memperkirakan kenaikan harga emas dan 70% investor ritel mengonfirmasi tren serupa.

Rich Checkan, Presiden dan COO Asset Strategies International, menegaskan bahwa pergerakan emas kini sangat dipengaruhi dinamika geopolitik, khususnya gencatan senjata rapuh antara AS‑Iran.

Senior market analyst Darin Newsom mencatat harga emas mendekati area resistensi penting pada rata‑rata pergerakan 50‑hari sekitar US$4.938, sementara indikator stochastic harian berada di atas 90%, menandakan kondisi jenuh beli.

Meski demikian, Newsom mengakui bahwa indikator teknikal saat ini belum memberikan kepastian arah pasar yang jelas.

Secara fundamental, pasar mengantisipasi normalisasi setelah pembukaan kembali jalur perdagangan energi, termasuk Selat Hormuz yang sempat terganggu.

Daniel Pavilonis, senior commodities broker RJO Futures, menilai volatilitas tinggi selama konflik telah mengurangi partisipasi spekulatif di pasar berjangka.

Pavilonis menambahkan bahwa kurva harga energi yang mulai menyempit hingga pertengahan 2027 menunjukkan ekspektasi stabilisasi kondisi global.

Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi sinyal penting perubahan sentimen, menurut Pavilonis.

Ia juga mencatat bahwa pasar kini memasuki fase risk‑on, di mana investor lebih memilih saham, menjadikan emas sekunder.

Adam Button, Head of Currency Strategy Forexlive, berpendapat bahwa emas berpotensi menjadi pemenang jangka menengah karena negara berkembang akan meningkatkan cadangan emas sebagai lindung nilai.

Button memperkirakan harga emas dapat kembali mencapai level psikologis US$5.000 dalam waktu dekat.

Alex Kuptsikevich dari FxPro memperingatkan potensi koreksi jangka pendek, mengingat fenomena “beli saat rumor, jual saat fakta”.

Ia menilai bahwa pergerakan di atas US$4.900 akan membuka peluang kenaikan lanjutan, sementara kegagalan menembus level tersebut dapat mengonfirmasi pembalikan tren.

Secara keseluruhan, sentimen pasar tetap bullish meski para pelaku tetap berhati‑hati terhadap fluktuasi geopolitik.

Negosiasi antara AS dan Iran yang masih berlangsung menjadi faktor kunci yang dapat memperkuat atau melemahkan harga emas.

Jika terjadi eskalasi, permintaan safe‑haven diperkirakan akan mendorong harga emas naik tajam.

Namun, selama gencatan senjata bertahan, emas cenderung terus pulih dari koreksi sebelumnya.

Bank sentral beberapa negara tetap menambah cadangan emas sebagai perlindungan nilai mata uang.

Di Indonesia, investor lokal juga meningkatkan pembelian, tercermin dari peningkatan penjualan produk tabungan emas Antam.

Indeks harga emas di Jakarta naik sekitar 1,5% pada Jumat, 17 April 2026, menembus level US$4.850.

Volume perdagangan berjangka komoditas di bursa Indonesia tetap moderat, mengindikasikan partisipasi spekulan yang terbatas.

Analis memperkirakan tren naik akan berlanjut jika ketegangan geopolitik tetap rendah.

Namun, kejutan pada harga minyak dunia dapat memengaruhi harga emas secara tidak langsung.

Ekspektasi inflasi yang masih moderat memberi ruang bagi logam mulia untuk mempertahankan daya tariknya.

Proyeksi pekan depan menunjukkan harga emas dapat menguji kisaran US$4.950‑5.000 sebelum menyesuaikan diri dengan kondisi pasar.

Per tanggal Senin pagi, harga emas diperdagangkan pada sekitar US$4.880, sementara pelaku pasar terus memantau perkembangan negosiasi AS‑Iran.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.