Media Kampung – 15 April 2026 | Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi di Lasem, Kabupaten Rembang, berhasil mengubah lahan kosong seluas 1,2 hektar menjadi kebun sayur produktif, menurunkan beban pengeluaran makanan keluarga setempat.

Inisiatif ini bermula dari niat sederhana untuk meningkatkan ketahanan pangan desa.

Program dimulai pada Maret 2023 setelah kelompok mengidentifikasi area tak terpakai di pinggir kampung Srigading.

Mereka kemudian melakukan pembersihan, pengolahan tanah, dan penanaman sayuran komersial serta organik.

Sepuluh anggota inti, dipimpin oleh Siti Nurhaliza, melaksanakan pelatihan dasar agronomi yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Rembang.

Pelatihan tersebut mencakup teknik rotasi tanaman, pemupukan alami, dan pengendalian hama secara ramah lingkungan.

Setelah tiga bulan, kebun menghasilkan rata-rata 2,5 ton sayuran segar per bulan, meliputi sawi, bayam, kangkung, dan cabai rawit.

Hasil panen didistribusikan kepada 150 rumah tangga anggota kelompok dan dijual di pasar tradisional Lasem.

Penurunan tersebut membantu meningkatkan daya beli untuk kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan.

KWT Srikandi juga mengadopsi model pertanian berkelanjutan dengan menggunakan kompos organik buatan sendiri dari limbah dapur anggota.

Kompos tersebut mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan memperbaiki struktur tanah.

Setiap minggu, anggota kelompok mengadakan pasar kecil di halaman balai desa, memfasilitasi penjualan langsung kepada konsumen tanpa perantara.

Pendapatan tambahan rata-rata Rp 500.000 per anggota per bulan.

Kepala Desa Lasem, H. Ahmad Fauzi, memberikan apresiasi atas kontribusi KWT dalam mengurangi impor sayur dari luar daerah.

Ia menyatakan bahwa inisiatif semacam ini selaras dengan program pemerintah untuk ketahanan pangan nasional.

Siti Nurhaliza, ketua KWT, mengatakan, “Kami ingin memastikan kebutuhan gizi keluarga terpenuhi dengan cara yang mandiri dan ramah lingkungan,” menekankan pentingnya partisipasi semua anggota.

Selain sayur, kelompok mulai bereksperimen menanam buah stroberi dan tomat cherry untuk menambah diversifikasi produk.

Proyek percobaan ini didukung oleh BUMDes Lasem melalui penyediaan bibit unggul.

Kawasan kebun kini dilengkapi dengan sistem irigasi tetes yang mengoptimalkan penggunaan air, terutama pada musim kemarau.

Sistem tersebut dipasang dengan bantuan relawan teknik pertanian dari Universitas Jember.

Data statistik Dinas Pertanian menunjukkan peningkatan produksi sayur daerah Rembang sebesar 12 persen pada tahun 2024, sebagian besar dipengaruhi oleh inisiatif komunitas seperti KWT Srikandi.

Keberhasilan kebun juga mendorong perempuan muda di desa lain untuk membentuk kelompok serupa, menandakan efek penularan sosial yang positif.

Beberapa desa tetangga, seperti Kedungbanteng dan Sukodadi, kini merencanakan proyek kebun bersama.

Dalam konteks pandemi COVID-19, kebun sayur menjadi sumber pangan yang stabil ketika distribusi pasar terganggu.

KWT melaporkan tidak ada anggota yang mengalami kelaparan selama periode pembatasan sosial.

Meskipun pencapaian sudah signifikan, kelompok menghadapi tantangan seperti serangan hama wereng dan fluktuasi harga sayur di pasar kota.

Untuk mengatasinya, mereka berkolaborasi dengan lembaga penyuluhan pertanian untuk mengimplementasikan metode biokontrol.

Rencana ke depan mencakup perluasan lahan hingga total 2 hektar dan pendirian unit pengolahan sederhana untuk membuat sayur beku.

Target tersebut diharapkan dapat menambah nilai jual dan memperpanjang umur simpan produk.

KWT Srikandi juga berencana mengadakan pelatihan kewirausahaan bagi anggota, agar mereka mampu mengelola usaha pertanian secara profesional.

Pelatihan tersebut akan meliputi manajemen keuangan, pemasaran digital, dan sertifikasi produk organik.

Hingga akhir April 2026, kebun tetap beroperasi secara optimal, menghasilkan sayuran segar setiap hari dan terus menjadi contoh sukses pemberdayaan perempuan dalam pertanian berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.