Media Kampung – Pada Selasa 5 Mei 2026, cuaca di Jawa Timur didominasi awan, menandakan fenomena kemarau basah yang diproyeksikan bertahan hingga akhir Mei. Kondisi ini mengindikasikan peralihan musim belum sepenuhnya menuju kemarau kering.
BMKG Juanda memperkirakan sebagian besar kabupaten/kota Jawa Timur akan mengalami kondisi berawan hingga cerah berawan sepanjang hari. Potensi hujan ringan tetap ada, terutama di wilayah pegunungan dan selatan.
Daerah pegunungan serta selatan seperti Bondowoso, Jember, Pacitan, dan Malang berpotensi menerima hujan ringan. Kelembapan relatif berada di kisaran 50‑98 persen, menunjukkan tingkat kelembaban yang tinggi meski musim kemarau sudah dimulai.
Suhu udara berkisar antara 21‑33 derajat Celsius, dengan kecepatan angin rata‑rata 2‑15 km/jam. Angin berhembus dari arah timur hingga tenggara, memberikan sirkulasi udara yang relatif stabil.
Kota Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik mengalami awan pada pagi hingga siang hari, beralih menjadi cerah berawan pada sore hari. Pola ini konsisten dengan prakiraan BMKG untuk wilayah perkotaan.
BMKG menyebut kondisi ini sebagai “kemarau basah”, di mana curah hujan masih sering terjadi meski kalender menunjukkan musim kemarau. “Kemarau basah ini terjadi sebelum munculnya fenomena El Nino,” kata BMKG.
Pihak BMKG memperingatkan bahwa fenomena ini akan berakhir menjelang kedatangan El Nino yang diperkirakan kuat pada musim kemarau mendatang. El Nino dapat menurunkan curah hujan secara signifikan dan meningkatkan suhu.
Perubahan ke arah cuaca lebih kering dan panas dapat mempengaruhi sektor pertanian serta keseharian warga. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca, terutama bagi aktivitas luar ruangan.
Potensi genangan air atau gangguan mobilitas dapat muncul bila hujan ringan berubah menjadi sedang di daerah rawan. Kewaspadaan diperlukan untuk menghindari dampak negatif pada transportasi dan infrastruktur.
Data terbaru BMKG pada hari Selasa menunjukkan intensitas hujan masih terpantau rendah, namun kelembapan tetap tinggi, menegaskan karakteristik kemarau basah. Hal ini memperkuat perkiraan bahwa awan akan tetap mendominasi.
Pihak berwenang daerah mengingatkan warga untuk menyiapkan perlengkapan darurat dan memantau informasi cuaca secara berkala. Langkah antisipatif ini diharapkan dapat meminimalkan gangguan akibat perubahan cuaca mendadak.
Hingga akhir Mei, prediksi cuaca tetap menunjukkan dominasi awan dengan peluang hujan ringan, menunggu peralihan ke musim kemarau kering pasca El Nino. Masyarakat diimbau terus mengikuti update resmi BMKG.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan