Media Kampung – Tradisi tahunan Gelar Budaya Keris Blambangan kembali digelar di Serambi Museum Blambangan, Banyuwangi, pada 16-19 Juni 2026. Ritual jamasan pusaka atau penyucian benda-benda kuno ini merupakan bagian dari perayaan menyambut bulan Suro dalam kalender Jawa. Tidak hanya dihadiri masyarakat lokal, acara ini juga berhasil menarik perhatian wisatawan mancanegara, salah satunya Zoe Couliard asal Prancis yang mengaku takjub melihat perawatan keris berusia ratusan tahun.
Makna Filosofis Jamasan Pusaka
Ketua Paguyuban Panji Blambangan, Ilham Triadi Nagoro, menjelaskan bahwa jamasan bukan sekadar membersihkan karat pada pusaka. Ritual ini memiliki makna filosofis mendalam sebagai simbol pembersihan diri secara utuh, baik fisik maupun spiritual. “Setidaknya setahun sekali, manusia perlu introspeksi atas apa yang telah diperbuat dan merencanakan langkah ke depan,” ujarnya. Prosesi dimulai dengan pengambilan pusaka dari tempat penyimpanan, dilanjutkan tirakatan atau bersemedi, hingga puncaknya adalah pencucian pusaka.
Pusaka yang Dijamas dan Sejarahnya
Beragam jenis pusaka dijamasi dalam acara ini, mulai dari keris sepuh, pedang luwuk, hingga tombak biring. Salah satu yang paling ikonik adalah tombak biring milik Raden Tumenggung Astro Kusumo, Bupati ke-18 Banyuwangi yang memimpin pada tahun 1888. Pusaka-pusaka ini dibersihkan agar terhindar dari korosi dan tetap terjaga kondisinya.
Meluruskan Mitos Seputar Keris
Ilham juga meluruskan mitos yang beredar di masyarakat mengenai keris yang bisa bergoyang atau berpindah tempat. Menurutnya, fenomena tersebut secara logis dan spiritual terjadi akibat menumpuknya energi negatif karena pusaka diabaikan dan tidak pernah dijamasi. Ia menegaskan bahwa kemampuan keris berdiri tegak bukan karena daya magis, melainkan bukti keterampilan dan keseimbangan fisik yang diaplikasikan para empu pembuatnya.
Rangkaian Acara dan Apresiasi Dunia
Selain jamasan, acara ini juga dimeriahkan dengan pameran pusaka, sarasehan, dan konsultasi gratis perawatan tosan aji. Zoe Couliard, wisatawan asal Prancis, mengaku terpesona melihat langsung prosesi yang penuh khidmat. “Benda-benda kuno ini yang usianya ratusan tahun masih terlihat terjaga karena dirawat dengan benar oleh generasi penerus,” katanya. Acara ditutup dengan doa bersama memohon perlindungan dan kesejahteraan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan