Media Kampung – Pameran perdana Atreyu Moniaga Project (AMP) di ARTJOG 2026 menjadi tonggak penting bagi kolektif seni yang lahir dari pinggiran Jakarta. Bertajuk LiminalPeriphery, pameran ini berlangsung di Jogja National Museum, Yogyakarta, mulai 19 Juni hingga 30 Agustus 2026. Lebih dari sekadar retrospektif, pameran ini merekam perjalanan 13 tahun AMP sejak didirikan pada 2013 di kawasan Lodan, Jakarta Utara—sebuah wilayah industri yang jarang dikaitkan dengan lahirnya komunitas seni.

AMP didirikan oleh Atreyu Moniaga saat ia merintis karier sebagai seniman dan pengajar seni. Bersama mahasiswa yang diajar, ia membangun ruang belajar yang tidak hanya fokus pada praktik artistik, tetapi juga ketahanan dalam ekosistem kreatif. Program inkubasi seni berdurasi satu tahun telah melahirkan 57 alumni yang kini aktif sebagai seniman, fotografer, dan pelaku industri kreatif. Hingga 2026, AMP telah menyelenggarakan 13 program inkubasi.

Pameran LiminalPeriphery menghadirkan lebih dari 700 karya dan arsip yang ditata dalam dua bagian. Bagian pertama menampilkan kilas balik perjalanan AMP, termasuk proses artistik dan dokumentasi pertumbuhan kolektif. Bagian kedua menampilkan presentasi khusus dari 12 seniman: Atreyu Moniaga, Wilhemus Willy, WD.Willy, Liffi Wongso, Rapha Lisa, Clasutta, Tusita Mangalani, Zita Nuella, Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry. Karya-karya mereka merefleksikan ambisi, keraguan, persahabatan, kehilangan, dan perubahan dalam perjalanan sebagai individu dan bagian dari komunitas.

“AMP bisa bertahan selama dan sejauh ini berkat dukungan orang-orang yang percaya pada kemampuan dan kerja keras kami. Semua ini adalah jerih payah bersama. Saya berharap pameran ini bisa menginspirasi audiens untuk menemukan dan merawat harapan yang tumbuh dari lingkungan mereka,” ujar Atreyu Moniaga.

Dengan semangat muda yang menjadi fondasi, LiminalPeriphery tidak hanya merayakan capaian kolektif, tetapi juga menjadi pengingat bahwa harapan, kreativitas, dan keberanian untuk bermimpi dapat tumbuh dari tempat-tempat yang kerap dianggap pinggiran.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.