Media Kampung – Dalam sebuah risalah yang beredar di kalangan akademisi, konsep Simulacrum Kontinuitas Edenik Dekonstruksi Premis Genesis Negara-Bangsa menjadi sorotan. Risalah ini mengkritik keras upaya sejumlah pemikir yang mencoba menautkan narasi Taman Eden secara langsung dengan fondasi negara-bangsa modern, yang dinilai sebagai bentuk ilusi genealogis dan teopolitik terselubung.

Kritik Metodologis: Antara Genealogi dan Metafisika Asal-Usul

Penulis risalah menekankan bahwa klaim genealogi yang digunakan banyak teks justru bertentangan dengan metode genealogis ala Nietzsche atau Foucault. Genealogi sejati menolak titik asal yang murni dan stabil, namun teks-teks tersebut justru memperlakukan Eden sebagai fondasi ontologis yang tak tergugat. Ini merupakan anti-genealogi yang menyamarkan metafisika asal-usul.

Selain itu, terjadi pencampuran domain epistemik antara sains, iman, dan teologi tanpa diferensiasi yang memadai. Klaim bahwa sains dan agama sama-sama percaya peradaban dimulai dari Eden dianggap sebagai kolaps kategori, karena sains tidak beroperasi dengan narasi Eden sebagai fakta ontologis.

Reduksi Kategoris: Larangan Ilahi vs Hukum Politik

Risalah juga mengkritik penyamaan larangan Tuhan di Eden dengan hukum politik. Larangan transenden bersifat vertikal antara Tuhan dan manusia, tanpa institusi, legitimasi sosial, atau mekanisme penegakan yang menjadi syarat hukum politik. Klaim bahwa Eden sudah mengandung negara dalam bentuk embrional dinilai sebagai anakronisme epistemik.

Kekuasaan di Eden yang beroperasi melalui bahasa, bukan paksaan fisik, sebenarnya membuka potensi analisis kritis. Namun, banyak teks justru mengarahkannya pada legitimasi kekuasaan absolut, tanpa memberi ruang bagi resistensi atau negosiasi. Eden yang seharusnya menjadi objek kritik malah dimutasi sebagai model normatif yang diidealkan.

Kontradiksi Ontologis: Adam sebagai Citra Tuhan

Konsep Adam sebagai citra Tuhan seringkali bergeser menjadi identifikasi ontologis total, menghapus jarak antara representasi dan identitas. Kontradiksi muncul: jika Adam identik dengan Tuhan, ia tak mungkin jatuh; jika ia bisa jatuh, ia bukan Tuhan. Inflasi ontologis ini juga berujung pada antropoteisme, menjadikan manusia sebagai pusat ontologis.

Lebih lanjut, Hawa diposisikan sebagai derivasi Adam, bukan subjek utuh. Perbedaan tidak dilihat sebagai potensi, melainkan sebagai keretakan. Ini secara implisit mengonstruksi hierarki ontologis antara laki-laki dan perempuan, yang merupakan konstruksi ideologis bukan analisis ontologis.

Dikotomi Palsu: Kuasa vs Pengetahuan

Oposisi antara Eden sebagai peradaban kuasa dan pasca-kejatuhan sebagai peradaban pengetahuan dinilai sebagai dikotomi palsu. Kuasa dan pengetahuan saling membentuk secara resiprokal; tidak ada kuasa tanpa pengetahuan, dan sebaliknya. Narasi kejatuhan dari kuasa ke pengetahuan menjadi tidak koheren, dan pengetahuan diposisikan secara negatif sebagai dosa, padahal pengetahuan bisa menjadi kondisi liberatif.

Penggunaan istilah ‘kudeta’ untuk tindakan Lucifer juga merupakan proyeksi anakronistik. Tidak ada negara atau institusi politik di Eden yang bisa direbut. Klaim bahwa Lucifer mendirikan ‘kerajaan pengetahuan’ tidak memiliki fondasi dalam narasi asli dan merupakan fiksi politik yang dilekatkan pada mitos.

Operasi Ideologis: Negara sebagai Representasi Tuhan

Puncak kritik adalah klaim bahwa negara-bangsa merupakan representasi Tuhan, sebagaimana Adam adalah citra Tuhan. Ini merupakan transfer legitimasi dari teologi ke politik, yang menaturalisasi negara dengan aura ilahi. Negara modern lahir dari sekularisasi dan kontrak sosial, bukan dari kehendak ilahi. Dengan mengembalikan negara ke horizon teologis, kekuasaan negara menjadi tak terbantahkan dan kritik terhadapnya dapat dibingkai sebagai pembangkangan.

Konstitusi disamakan dengan pohon kehidupan, dan hukum positif dengan titah ilahi. Ini adalah over-extension metaforis yang mengaburkan perbedaan domain: pohon kehidupan adalah simbol eksistensial, sementara konstitusi adalah dokumen politik. Hukum positif dan perintah ilahi beroperasi dalam domain yang berbeda—transenden vs imanen.

Rekonstruksi: Memisahkan Domain, Mengembalikan Konteks

Risalah ini tidak hanya mendekonstruksi, tetapi juga menawarkan rekonstruksi. Langkah pertama adalah membedakan secara tegas domain mitos (simbolik), teologi (iman transenden), dan politik (relasi sosial dan institusi). Ketiganya dapat berinteraksi, namun tidak dapat direduksi satu sama lain. Genealogi harus dipahami sebagai analisis praktik dan relasi kuasa yang kontingen, bukan pencarian asal-usul yang murni.

Negara harus dipahami sebagai konstruksi historis, hasil dari kebutuhan manusia mengatur kehidupan komunal, bukan refleksi Tuhan. Subjek manusia adalah agen aktif, bukan korban dosa yang mencari pemulihan melalui negara. Politik lahir dari kapasitas bertindak bersama, bukan dari kehilangan Eden.

Dengan rekonstruksi ini, relasi antara Eden dan negara-bangsa tidak lagi dipaksakan sebagai garis lurus, melainkan dipahami sebagai resonansi simbolik yang tidak menentukan secara langsung. Bahaya terbesar bukanlah kesalahan logika, melainkan ilusi yang tampak menggiurkan dan koheren secara retoris. Setiap narasi, termasuk yang paling sakral, harus tetap tunduk pada kritik rasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.