Media Kampung – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menetapkan pemenang lelang frekuensi 4G dan 5G. Telkomsel (TLKM), Indosat (ISAT), dan XLSmart (EXCL) menjadi operator yang berhasil mendapatkan alokasi spektrum baru. Lelang ini menjadi momen penting bagi industri telekomunikasi Indonesia karena akan menentukan peta persaingan dalam beberapa tahun ke depan.

Alokasi Spektrum: Siapa Dapat Apa?

Dalam lelang ini, masing-masing operator memperoleh pita frekuensi di dua band: 700 MHz (low band) untuk jangkauan luas, dan 2,6 GHz (mid-high band) untuk kapasitas tinggi. Berikut rinciannya:

Baca juga:
  • EXCL: 30 MHz di 700 MHz (terbesar) dan 50 MHz di 2,6 GHz. Total spektrum sekitar 217 MHz.
  • TLKM: 20 MHz di 700 MHz dan 80 MHz di 2,6 GHz (terbesar). Total spektrum sekitar 265 MHz.
  • ISAT: 20 MHz di 700 MHz dan 60 MHz di 2,6 GHz. Total spektrum sekitar 215 MHz.

Meskipun TLKM memiliki total spektrum terbesar, EXCL menjadi operator paling agresif dengan mengajukan harga penawaran tertinggi untuk pita 700 MHz, yaitu Rp1,06 triliun. Total komitmen pembayaran EXCL mencapai sekitar Rp1,29 triliun, lebih tinggi dibanding TLKM (Rp1,19 triliun) dan ISAT (Rp879 miliar).

Dampak Biaya Spektrum terhadap Keuangan

Besarnya komitmen pembayaran berpotensi meningkatkan beban belanja modal (capex) dan biaya amortisasi. Namun, pemerintah telah melonggarkan skema pembayaran front-loading. Jika sebelumnya operator harus membayar up-front fee dua kali nilai blok ditambah annual BHP satu kali, kini up-front fee dipangkas menjadi satu kali. Total pembayaran tahun pertama menjadi lebih ringan sekitar 33%.

Menurut riset BRI Danareksa, dampak terhadap EBITDA tahun 2027 relatif terbatas: EBITDA EXCL diproyeksikan turun 3,3%, ISAT 3%, dan TLKM 1,5%. Selain itu, target cakupan 5G yang moderat (51% dalam lima tahun) membuat siklus capex berlangsung bertahap, tidak membebani keuangan secara mendadak.

Baca juga:

Prospek Masing-masing Operator

ISAT: Paling Efisien dengan Spektrum Seimbang

ISAT memiliki total spektrum terkecil, namun distribusi frekuensinya paling seimbang antara low band dan high band. Hal ini memberikan fleksibilitas dalam mengoptimalkan jangkauan dan kapasitas. Valuasi saham ISAT juga menarik, dengan EV/EBITDA sekitar 3,8 kali untuk proyeksi 2026, jauh di bawah rata-rata historis. Model bisnis yang efisien membuat ISAT dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang baik.

EXCL: Potensi Efisiensi Pasca Merger

EXCL kini memiliki spektrum 217 MHz, berkurang 15 MHz karena pengembalian spektrus pasca merger dengan Smartfren. Namun, langkah ini justru menghemat biaya BHP hingga Rp1 triliun per tahun. Sebagian besar biaya integrasi telah terlewati, dan sinergi operasional diperkirakan mulai memberikan kontribusi positif pada 2027. Meski harga saham telah terkoreksi lebih dari 30% sejak awal tahun, valuasi EV/EBITDA masih sedikit di atas rata-rata historis 5 kali, sehingga tergolong fair value.

TLKM: Netral dengan Ketidakpastian InfraNexia

TLKM masih menjadi pemilik spektrum terbesar (265 MHz) dengan keunggulan di pita 2,6 GHz dan 2,3 GHz. Namun, prospek jangka menengah masih dibayangi ketidakpastian penyelesaian transaksi spin-off InfraNexia. Hingga akhir 2025, baru 50% aset wholesale fiber connectivity senilai Rp35,8 triliun yang dialihkan, sisanya ditargetkan rampung pada paruh kedua 2026. Oleh karena itu, TLKM dinilai netral untuk saat ini.

Baca juga:

Kesimpulan

Setelah lelang frekuensi 5G, masing-masing operator memiliki keunggulan dan tantangan. ISAT menjadi pilihan menarik karena valuasi murah dan spektrum seimbang. EXCL memiliki potensi efisiensi pasca merger, sementara TLKM masih menunggu kejelasan aksi korporasi. Investor disarankan mencermati perkembangan lebih lanjut, terutama terkait realisasi capex dan dampak spektrum terhadap pendapatan.