Media Kampung – Kelangkaan dan mahalnya gas industri menjadi ancaman serius bagi puluhan ribu pekerja di sektor manufaktur. Di Bekasi, Jawa Barat, sebanyak 55.000 karyawan pabrik keramik terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat lonjakan harga gas yang tidak terkendali.
Lonjakan Harga Gas Industri
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea mengungkapkan bahwa harga gas industri telah melonjak drastis dari 6 dolar AS menjadi 23 dolar AS per million metric British thermal units (MMBTU). Kenaikan ini disebut sebagai penyebab utama kesulitan yang dihadapi pabrik-pabrik keramik di kawasan tersebut.
“Dua pabrik anggota saya yang terbesar di Bekasi tutup. Itu Granito, satu lagi menyusul Milan Keramik dan Mulia Keramik, karena gas industri. Ini bahaya sekali,” ujar Andi dalam pernyataannya.
Langkah DPR dan Pertamina
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad merespons cepat situasi ini. Saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta, Selasa (24/6/2026), Dasco langsung menghubungi Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri melalui sambungan telepon yang diperdengarkan kepada audiens.
“Halo, Pak Dirut Pertamina ini saya lagi di Raker KSPI. Ya, saya tadi ditanyakan mengenai masalah gas industri. Jadi, ini saya tadi sudah rancang pidato cuma buyar semua nih gara-gara soal gas,” kata Dasco dalam percakapan tersebut.
Menanggapi hal itu, Simon Aloysius Mantiri menyatakan akan segera berkoordinasi dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk mencari solusi. “Siap Pak Dasco, saya tentunya akan segera koordinasi dengan pihak PGN dan dari kita tentunya komitmen kita agar supaya kita akan lakukan penyesuaian,” ujar Simon.
Koordinasi dengan Pemerintah
KSPSI telah berkoordinasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Andi Gani berharap dalam 2-3 hari ke depan akan ada jalan keluar dari persoalan ini. Ia juga menyoroti ironi bahwa Indonesia sebagai penghasil energi terbesar di dunia justru mengalami kekurangan gas di dalam negeri karena sebagian besar diekspor.
“Kita penghasil energi terbesar di dunia, alangkah mirisnya kita malah kekurangan gas di dalam negeri, kita malah ekspor. Itu, mudah-mudahan masalah cepat selesai,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi dari pemerintah maupun Pertanian terkait kebijakan harga gas industri. Para pekerja dan pengusaha berharap agar solusi segera ditemukan untuk mencegah gelombang PHK massal yang lebih luas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan