Media Kampung – Pada perdagangan Kamis, 18 Juni 2026, pergerakan harga komoditas utama menunjukkan tren yang bervariasi. Harga nikel dan timah tercatat menguat, sedangkan batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) justru mengalami pelemahan. Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar global yang dipengaruhi oleh berbagai faktor permintaan dan pasokan.

Batu Bara Turun 2,81 Persen

Harga batu bara untuk kontrak pengiriman Juli 2026 di bursa ICE Newcastle ditutup pada level USD 131,55 per ton, turun 2,81 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Penurunan ini melanjutkan tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global yang berpotensi menekan permintaan energi.

CPO Melemah Tipis

Harga crude palm oil (CPO) juga tercatat melemah, meskipun hanya tipis. Berdasarkan data dari Trading Economics, harga CPO turun 0,02 persen ke level MYR 4.573 per ton. Pelemahan ini terjadi di tengah ekspektasi pasokan yang melimpah dari negara-negara produsen utama, seperti Indonesia dan Malaysia.

Nikel Naik 0,36 Persen

Di sisi lain, harga nikel di London Metal Exchange (LME) berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 0,36 persen, ditutup pada USD 18.060 per ton. Kenaikan ini didorong oleh optimisme pasar terhadap permintaan nikel untuk industri baterai kendaraan listrik yang terus tumbuh.

Timah Menguat 0,40 Persen

Sementara itu, harga timah juga menunjukkan penguatan. Berdasarkan data LME, harga timah naik 0,40 persen menjadi USD 55.344 per ton. Kenaikan ini didukung oleh sentimen positif dari sektor elektronik global yang membutuhkan timah sebagai bahan baku solder.

Pergerakan harga komoditas ini menjadi indikator penting bagi pelaku pasar, terutama bagi Indonesia yang merupakan salah satu produsen utama batu bara, CPO, nikel, dan timah. Fluktuasi harga akan berdampak langsung pada pendapatan ekspor dan perekonomian nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.