Media Kampung – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyambut positif kembali dibukanya Selat Hormuz setelah sebelumnya terganggu akibat konflik Iran-Israel. Meski demikian, ia memperkirakan dunia usaha membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 60 hari untuk pulih sepenuhnya dari dampak gangguan rantai pasok global.

Dalam konferensi pers Kadin Business Pulse Q1 2026 di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Anindya menjelaskan bahwa meskipun telah ada kesepakatan antara pihak-pihak yang bertikai, proses normalisasi aktivitas perdagangan dan logistik tidak bisa terjadi secara instan. Dunia usaha masih menunggu implementasi di lapangan serta pemulihan arus distribusi barang.

Salah satu indikator positif yang sudah terlihat adalah penurunan harga minyak dunia. Anindya mencontohkan, harga minyak mulai turun setelah adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. “Pasti butuh untuk pendetailan dan aktualisasinya di lapangan. Kita mesti lihat, mungkin dalam waktu 30-60 hari ini, sudah bisa kembali senormal mungkin,” ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.

Konflik sebelumnya telah mengganggu rantai pasok global, menyebabkan biaya logistik melonjak dan ketersediaan bahan baku menjadi terbatas. Menurut Anindya, disrupsi supply chain membuat harga menjadi mahal dan bahan baku sulit didapat. Ia menekankan pentingnya Indonesia memperkuat fondasi ekonominya agar lebih tahan terhadap gejolak eksternal di masa depan.

Anindya menyoroti dua sektor yang perlu mendapat perhatian pemerintah saat ini: industri padat karya dan padat modal. “Pertama, yang padat karya, karena membawa kemandirian pangan. Tapi juga sektor yang membutuhkan banyak dana masuk. Itu kita mesti proteksi supaya investasinya masuk,” jelasnya.

Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, diharapkan rantai pasok global dapat berangsur normal dan harga komoditas kembali stabil. Namun, pelaku usaha tetap perlu waspada terhadap potensi ketidakpastian geopolitik di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.