Media Kampung – PT ELIT (Perseroan) mengumumkan rencana ekspansi ke Eropa Barat untuk menangkap peluang permintaan layanan cloud dan cybersecurity di kawasan tersebut. Langkah ini menjadi strategi diversifikasi pendapatan di tengah penurunan kinerja kuartal I-2026. Prospek saham ELIT pun menjadi sorotan investor.
Manajemen ELIT mengungkapkan bahwa pihaknya telah mencapai tahap diskusi verbal dan optimistis dapat menutup kesepakatan dalam waktu dekat. Ekspansi ini didorong oleh kebutuhan sumber daya manusia untuk layanan cloud dan cybersecurity yang ditemukan pada empat calon mitra di Eropa Barat. Perusahaan berencana menjadikan Eropa Barat sebagai basis penjualan, sementara operasional tetap menggunakan sumber daya dari Indonesia untuk mengoptimalkan margin keuntungan.
Ini merupakan ekspansi luar negeri kedua ELIT setelah sebelumnya mengakuisisi 49,28% saham Iloken System Sdn. Bhd. di Malaysia pada Juli 2025 senilai Rp11,96 miliar. Kontribusi Iloken terhadap laba bersih ELIT tahun 2025 mencapai 7,4%, namun pada kuartal I-2026 Iloken justru mencatat kerugian Rp263 juta. Manajemen menargetkan kontribusi bisnis Malaysia naik 10-15% dari total pendapatan.
Untuk mendukung ekspansi, ELIT menganggarkan belanja modal Rp55 miliar pada tahun ini, lebih besar dari Rp50 miliar pada 2025. Perusahaan juga memutuskan tidak membagikan dividen dari tahun buku 2025 demi menjaga likuiditas.
Di sisi lain, kinerja kuartal I-2026 menunjukkan tekanan. Pendapatan turun 37% menjadi Rp84 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, terutama akibat penurunan layanan managed service sebesar 40% menjadi Rp74 miliar. Salah satu penyebabnya adalah hilangnya kontribusi pendapatan dari Kemendikbud sekitar Rp27 miliar. Meski demikian, laba bersih masih tumbuh 10% menjadi Rp8 miliar berkat efisiensi biaya operasional dan penjualan aset tetap.
Manajemen berdalih penurunan pendapatan merupakan bagian dari strategi mencari pendapatan dengan margin lebih baik, terbukti dari gross profit margin yang naik menjadi 30% dari sebelumnya 22%. ELIT juga tengah melirik peluang dari pengelolaan pusat data nasional (PDN), meski masih mempertimbangkan untuk ikut tender. Tantangan bisnis saat ini adalah kecenderungan pelanggan untuk melakukan efisiensi biaya, bukan ekspansi, namun manajemen mengklaim hal itu tetap dapat di-cover oleh layanan perseroan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan