Media Kampung – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh level Rp 18.000 memaksa generasi Z di sektor kreatif untuk menerapkan strategi nahan jajan dan ngejar cuan demi bertahan di tengah tekanan ekonomi. Bagi mereka, kenaikan dolar bukan hanya soal harga barang impor yang semakin mahal, tetapi juga mengancam keberlangsungan pekerjaan yang bergantung pada perangkat teknologi, software, dan layanan digital berlangganan.

Salah satu contoh nyata adalah Sandewa Beryl, seorang pekerja kreatif di bidang musik. Saat mendengar kabar dolar menembus Rp 18.000, ia mengaku merasa pesimistis. “Intinya makin hopeless aja sih perasaan saya sebagai warga Indonesia. Rasanya setiap hari ada saja tantangan ekonomi baru yang muncul,” ujarnya.

Beryl merasakan dampak langsung pada alat produksi musik. Harga alat musik dan perangkat elektronik terus naik, membuat barang yang tadinya hampir bisa dibeli kini semakin jauh dari jangkauan. “Hal yang paling sering saya pantau itu harga alat musik dan elektronik. Barang yang tadinya saya pikir sudah hampir bisa dibeli, ternyata makin jauh karena harganya terus naik,” katanya.

Tantangan terbesar justru datang dari kebutuhan profesional. Beryl menggunakan sejumlah software produksi dan platform digital yang biaya langganannya dalam dolar AS. “Karena saya menggunakan beberapa software dan platform berlangganan bulanan yang harganya dalam dolar, kenaikannya cukup terasa. Setiap bulan ada tambahan pengeluaran yang lumayan ketimbang sebelumnya,” ujarnya.

Kondisi ini memaksanya melakukan penyesuaian. Beberapa software dan plugin yang sebelumnya menjadi bagian dari alur kerja terpaksa dihentikan. “Sekarang ada beberapa plugin dan software yang saya cut dari workflow karena memang harus lebih selektif. Saya hanya mempertahankan yang benar-benar penting untuk produksi,” katanya.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran prioritas di kalangan pekerja kreatif muda. Mereka mulai memandang alat kerja sebagai kebutuhan utama, sehingga rela mengorbankan pengeluaran konsumtif demi menjaga produktivitas. Beryl sendiri telah menabung sejak tahun lalu untuk membeli laptop baru, namun rencana itu tertunda karena harga elektronik ikut naik.

Meski demikian, ia tidak lantas berbelanja impulsif. “Walaupun tetap ingin menikmati hidup, jangan sampai hedon. Hal terpenting sekarang belajar budgeting dan mengatur pengeluaran sehari-hari,” tegasnya. Beryl mengaku lebih ketat dalam mengatur pengeluaran dan kini fokus mencari cara agar tetap bisa menikmati hidup tanpa terbebani kecemasan ekonomi.

Ia juga bersyukur masih mendapat dukungan keluarga yang membantu mengurangi beban biaya hidup. Namun, optimisme tetap diperlukan agar bisa terus melangkah di tengah ketidakpastian.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.