Media Kampung – Mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan praktikum lapangan untuk mengkaji potensi pengembangan kopi organik lokal sebagai peluang agribisnis berkelanjutan. Kegiatan yang berlangsung di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ini melibatkan observasi dan wawancara langsung dengan petani kopi organik guna memahami sistem pertanian ramah lingkungan yang bernilai ekonomi tinggi.

Dalam praktikum tersebut, mahasiswa mendalami proses budidaya kopi organik mulai dari pembukaan lahan, pembuatan lubang tanam, pemberian kompos, hingga penanaman bibit kopi varietas robusta. Petani setempat, Nemen (50), yang telah menggeluti usaha tani kopi selama 20–30 tahun, menjadi narasumber utama. Meski bekerja sebagai karyawan, ia tetap aktif mengelola lahan kopi miliknya secara organik tanpa pupuk dan pestisida kimia.

Lahan Nemen ditanami sekitar 2.000 bibit kopi dengan jarak tanam 2×4 meter dan 3×4 meter. Ia juga menerapkan sistem tumpangsari dengan tanaman teh dan kapulaga untuk mengoptimalkan penggunaan lahan. Perawatan tanaman dilakukan menggunakan pupuk organik berupa kotoran sapi setiap enam bulan sekali, dengan dosis 2–3 kilogram per tanaman dewasa. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara alami melalui pemangkasan dan penggantian bibit rusak.

“Pertanian organik memang membutuhkan proses yang lebih lama, terutama saat cuaca kurang mendukung karena proses pengeringan kopi menjadi lebih sulit. Namun kualitas kopi tetap terjaga dan lebih ramah lingkungan,” ujar Nemen saat diwawancarai. Seluruh proses budidaya hingga panen dilakukan secara manual dengan alat sederhana dan mengandalkan curah hujan sebagai irigasi utama.

Hasil panen kopi basah mencapai sekitar 500 kilogram per musim panen. Setelah diolah menjadi green bean, kopi dijual dengan harga Rp47.000–Rp50.000 per kilogram. Sementara itu, jika diolah menjadi kopi bubuk, harga jualnya bisa mencapai Rp120.000–Rp130.000 per kilogram. Produk dipasarkan kepada tengkulak atau diolah mandiri untuk meningkatkan nilai tambah.

Melalui praktikum ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung tentang penerapan pertanian organik dan peluang pengembangan agribisnis kopi lokal. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa mengenai pentingnya pertanian berkelanjutan serta mendorong pengembangan komoditas kopi lokal yang berdaya saing di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.