Media Kampung – Harga minyak dunia terjun bebas lebih dari 5 persen pada perdagangan Senin (25/5/2026) seiring munculnya optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harapan tersebut membuat harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) turun tajam, sementara pasar saham Asia justru mencatatkan penguatan signifikan.

Minyak Brent anjlok hingga 7 persen ke kisaran 96-97 dolar AS per barel, sedangkan WTI turun sekitar 6,5 persen ke level 90 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi di tengah volume perdagangan yang relatif rendah karena bertepatan dengan hari libur Memorial Day di AS. Sentimen positif pasar didorong oleh perundingan intensif antara pejabat tinggi Iran dan perwakilan AS yang berlangsung di Doha, Qatar, yang membahas nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik bersenjata antara kedua negara.

Negosiator dari Iran dan menteri luar negeri mereka sedang berupaya mencapai kesepakatan yang akan membuka kembali jalur pelayaran vital Selat Hormuz, yang selama ini menjadi titik kritis dalam distribusi minyak global karena blokade yang diberlakukan Iran. Pembukaan kembali Selat Hormuz diperkirakan akan mengalirkan kembali sekitar 10-11 juta barel minyak mentah per hari yang saat ini tertahan, meskipun para analis memperkirakan proses pemulihan penuh membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan karena kerusakan infrastruktur dan operasional kilang yang harus diperbaiki.

Presiden AS Donald Trump dalam unggahannya di platform media sosial Truth Social menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan dengan baik dan konstruktif, meski ia mengingatkan bahwa opsi tindakan militer tetap ada jika negosiasi gagal. Trump juga menyerukan agar lebih banyak negara Arab dan mayoritas Muslim bergabung dalam Abraham Accords untuk mempererat hubungan regional dan meredam risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meskipun ada kemajuan dalam perundingan, pemerintah Iran menegaskan bahwa kesepakatan akhir belum bisa dicapai dalam waktu dekat karena masih terdapat perbedaan terkait isu-isu utama, termasuk blokade di Selat Hormuz. Analis pasar dari ING, Warren Patterson, menyatakan bahwa pasar akan tetap berhati-hati merespons perkembangan ini mengingat pengalaman sebelumnya di mana negosiasi hampir mencapai kesepakatan namun akhirnya gagal.

Di sisi lain, penguatan indeks saham seperti Nikkei 225 di Jepang mencerminkan optimisme investor terhadap stabilitas geopolitik yang berpotensi terwujud. Namun, para ahli mengingatkan bahwa normalisasi pasokan minyak global tidak akan segera terjadi meski kesepakatan tercapai, karena proses rehabilitasi infrastruktur dan operasi produksi perlu waktu.

Dengan dinamika ini, harga minyak dunia mengalami koreksi tajam dari level tertinggi sejak konflik pecah, namun masih berada di atas harga sebelum perang berlangsung. Pasar kini menunggu kelanjutan pembicaraan di Doha dan respons resmi dari kedua pemerintah terkait langkah-langkah konkret untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik yang berlarut-larut.

Secara keseluruhan, perkembangan ini memberikan angin segar bagi pasar energi global yang sebelumnya tertekan oleh ketidakpastian geopolitik, meskipun tantangan dan ketidakpastian masih membayangi hingga kesepakatan final benar-benar terwujud.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.