Media Kampung – Alexander Ramlie kembali mencuri perhatian publik setelah perusahaan tambang yang dipimpinnya, Dhilmar, berhasil mengambil alih tambang batu bara kokas di Australia dengan nilai transaksi mencapai US$3,9 miliar. Akuisisi ini menandai ekspansi signifikan Dhilmar di sektor pertambangan global, khususnya di tengah lonjakan permintaan batu bara kokas untuk industri baja dunia.
Kesepakatan pembelian tambang batu bara kokas milik Anglo American diumumkan pada 18 Mei 2026. Dalam transaksi tersebut, Dhilmar akan membayar sebesar US$2,3 miliar secara tunai pada saat penyelesaian transaksi yang dijadwalkan pada kuartal pertama 2027. Selain nilai tunai tersebut, terdapat komponen pembayaran tambahan hingga US$1,6 miliar yang bergantung pada fluktuasi harga batu bara kokas selama lima tahun setelah akuisisi selesai.
Tambang yang diakuisisi ini sebelumnya sempat akan dibeli oleh Peabody Energy pada November 2024. Namun, rencana tersebut gagal karena terjadinya kebakaran besar pada Maret 2025 yang memaksa penghentian sementara operasi Tambang Moranbah North di Australia. Anglo American kemudian melanjutkan proses arbitrase dengan Peabody terkait batalnya transaksi tersebut.
Langkah Dhilmar di bawah kepemimpinan Alexander Ramlie menunjukkan strategi agresif dalam memperkuat posisi di pasar batu bara kokas global. Batu bara jenis ini merupakan bahan baku penting dalam produksi baja, sehingga prospek permintaan yang meningkat menjadi daya tarik utama bagi investasi besar ini.
Alexander Ramlie dikenal sebagai miliarder tambang yang sudah lama berkiprah di industri pertambangan Indonesia dan kini mulai merambah pasar internasional. Akuisisi ini mempertegas ambisinya mengembangkan bisnis tambang tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di kawasan yang memiliki potensi tinggi seperti Australia.
Dengan nilai transaksi yang besar dan mekanisme pembayaran yang berkaitan dengan harga komoditas, akuisisi ini dinilai cukup strategis untuk mengantisipasi dinamika pasar batu bara kokas di masa depan. Keberhasilan Dhilmar mengambil alih tambang tersebut juga menunjukkan kemampuan negosiasi dan manajemen risiko yang dimiliki Alexander Ramlie.
Transaksi ini diperkirakan akan selesai pada kuartal pertama 2027, di mana Dhilmar akan mulai mengelola tambang tersebut secara penuh. Sementara itu, proses arbitrase antara Anglo American dan Peabody Energy masih terus berjalan untuk menyelesaikan sengketa akibat kegagalan transaksi sebelumnya.
Langkah besar ini memberikan gambaran tentang bagaimana pemain tambang Indonesia mulai berani bersaing di panggung global dengan mengambil aset strategis di negara lain. Dhilmar di bawah Alexander Ramlie membuktikan bahwa perusahaan tambang lokal bisa bertransformasi menjadi entitas internasional yang diperhitungkan.
Ke depan, pengelolaan tambang batu bara kokas ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri baja dunia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan