Media Kampung – Bahan baku laundry naik drastis hingga 80 persen, memaksa para pelaku usaha di Banyuwangi menimbang kenaikan tarif layanan. Kenaikan tersebut memunculkan dilema antara mempertahankan pelanggan dan menjaga kelangsungan bisnis.
Lonjakan harga terjadi pada tiga komponen utama, yaitu parfum, plastik kemasan, dan elpiji. Parfum berkapasitas 5 liter meningkat dari Rp 400 ribu menjadi Rp 800 ribu, menciptakan beban biaya tambahan yang signifikan.
Plastik kemasan, bahan penting untuk pengemasan pakaian bersih, juga mengalami kenaikan hampir 80 persen dalam beberapa minggu terakhir. Kenaikan ini mengurangi margin keuntungan karena biaya pembungkusan tidak dapat ditransfer sepenuhnya ke konsumen.
Elpiji, yang dipakai untuk setrika uap dan pengering, turut terpengaruh dengan harga yang terus merangkak naik. Wulan Lestari, pemilik Kita Qta Laundry, melaporkan konsumsi dua kilogram per hari yang kini menguras anggaran operasional.
Wulan mengaku telah menambah tarif seratus ribu rupiah pada layanan reguler sejak awal April 2026. Harga cuci reguler naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 8.000, namun ia khawatir kenaikan lebih lanjut akan memicu protes konsumen.
Anggota Paguyuban Laundry Banyuwangi menyatakan bahwa hampir seluruh anggotanya merasakan tekanan serupa. Mereka menolak menambah tarif lebih jauh karena takut kehilangan pangsa pasar di tengah persaingan yang ketat.
Margin keuntungan kini menyusut tajam, memaksa banyak pemilik usaha kecil mengurangi kualitas layanan atau menunda perawatan mesin. Situasi ini mengancam keberlanjutan operasional usaha laundry skala mikro hingga menengah.
Para pelaku bisnis menuntut intervensi pemerintah, khususnya kebijakan stabilisasi harga bahan baku. Mereka juga mengusulkan klasifikasi usaha laundry agar subsidi elpiji dapat diarahkan kepada usaha kecil yang paling terdampak.
Klasifikasi yang diusulkan mencakup pembagian antara laundry besar, menengah, dan mikro, dengan masing-masing mendapat kebijakan tarif energi yang berbeda. Jika diterapkan, subsidi elpiji dapat menurunkan beban operasional bagi usaha mikro.
Pengamat ekonomi regional menilai bahwa lonjakan harga bahan baku merupakan konsekuensi dari fluktuasi pasar global dan kebijakan pajak domestik. Mereka menyarankan diversifikasi sumber bahan baku sebagai langkah jangka panjang.
Untuk jangka pendek, beberapa laundry mencoba mengoptimalkan penggunaan parfum dengan mencampur konsentrasi yang lebih rendah, sementara yang lain beralih ke bahan pengganti plastik yang lebih murah namun tetap memenuhi standar kebersihan.
Hingga kini, belum ada keputusan resmi dari pemerintah daerah Banyuwangi terkait subsidi atau pengendalian harga. Pengusaha laundry tetap menanti kebijakan yang dapat meredakan tekanan biaya dan menjaga kestabilan tarif layanan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan